Perkembangan Masyarakat Prasejarah di Indonesia

PERKEMBANGAN MASYARAKAT PRAAKSARA INDONESIA

Petrus Haryo Sabtono

ncp-mdb

Tahap-tahap Perkembangan

Perkembangan kehidupan masyarakat pra-aksara (sejarah) berlangsung melalui beberapa tahap. Tahap-tahap dalam perkembangan kehidupan dibagi menjadi masa berburu dan mengumpulkan makanan, masa bercocok tanam dan masa perundagian.

Masa Berburu dan Mengumpulkan Makanan

Masa Berburu dan Mengumpulkan Makanan

A. Kehidupan ekonomi

Masyarakat pada masa berburu dan mengumpulkan makanan masih sangat bergantung pada alam lingkungan. Mereka berburu hewan, menangkap ikan, mencari kerang dan siput di laut atau sungai. Mereka juga mengumpulkan umbi-umbian, daun-daunan, dan biji-bijian di lingkungan mereka. Mereka membuat tempat berlindung dari daun-daunan sebagai tempat tinggal mereka. Pada perkembangan berikutnya mereka menghuni gua-gua. Tempat yang dipilih adalah tempat yang dekat dengan sumber air atau sungai.

2-kehidupan-ekonomi-masa-berburu-dan-mengumpulkan-makanan

B. Kehidupan Sosial

Masyarakat prasejarah menyenangi hidup berpindah-pindah (nomaden). Susunan masyarakat terbagi menjadi beberapa kelompok dengan pembagian kerja yang jelas. Kaum lelaki bertugas berburu hewan, kaum wanita bertugas mengumpulkan makanan. Setelah api ditemukan kaum wanita bertugas memelihara api agar tetap menyala.

3-kehidupan-sosial-masa-berburu-dan-mengumpulkan-makanan

C. Kehidupan Budaya

4-kehidupan-budaya-masa-berburu-dan-mengumpulkan-makanan5-kehidupan-budaya-masa-berburu-dan-mengumpulkan-makananMasyarakat prasejarah sudah mampu membuat alat-alat sederhana yang masih kasar. Alat itu digunakan untuk berburu dan meramu makanan. Alat batu tersebut berciri paleolitik. Seni lukis mulai dikenal setelah mereka tinggal di dalam gua. Lukisan di dalam gua menggambarkan manusia dalam berbagai kegiatan, binatang, matahari, cap tangan, dan bangunan geometris. Corak kepercayaan tampak dari lukisan dan penguburan. Lukisan dinding gua mengungkapkan kepercayaan masyarakat prasejarah akan kekuatan magis.

 

Masa Bercocok Tanam

A. Kehidupan Ekonomi

Pada masa bercocok tanam, masyarakat prasejarah tidak lagi bergantung dengan alam lingkungan. Kebutuhan akan makanan dipenuhi dengan cara berladang dan berternak. Mereka beternak ayam, kerbau, dan babi, serta memelihara anjing. Selain untuk dimakan, hewan ternak digunakan sebagai binatang korban. Meskipun telah bercocok tanam, perburuan binatang di hutan sesekali tetap dilakukan. Kebutuhan tempat tinggal dipenuhi dengan membuat rumah sederhana dan kecil beratapkan daun-daunan. Perkembangan berikutnya rumah lebih besar dan dibangun di atas tiang-tiang untuk menghindari banjir dan serangan binatang buas. Rumah dibangun berdekatan dengan ladang. Masyarakat di masa ini telah mengenal perdagangan barter.

6-kehidupan-ekonomi-masa-bercocok-tanamB. Kehidupan Sosial

Masyarakat telah menetap dalam perkampungan sederhana. Masyarakat tersusun menurut kelompok bertani. Pembagian kerja semakin jelas. Pekerjaan yang memerlukan banyak tenaga dilakukan oleh kaum laki-laki, seperti membuka hutan, menyiapkan ladang untuk ditanami dan membangun rumah. Kaum perempuan bertugas menabur benih, merawat rumah dan menangani pekerjaan rumah tangga lainnya.

C. Kehidupan Budaya

9-kehidupan-ekonomi-masa-bercocok-tanamDi masa ini masyarakat makin mahir membuat alat-alat yang lebih halus. Alat batu yang dihasil kan bersifat neolithik. Selain alat batu, masyarakat prasejarah telah mampu membuat alat rumah tangga dari tanah liat seperti gerabah. Mereka juga telah membuat perhiasan dari batu pilihan dan kulit kerang. Bangunan megalithik diperlukan untuk kegiatan yang berhubungan dengan kepercayaan. Corak kepercayaan tampak dari benda-benda jimat, penguburan, dan bangunan megalitik.

8-kehidupan-ekonomi-masa-bercocok-tanam 16-gerabah-masa-praaksara

 

Masa Perundagian

A. Kehidupan Ekonomi

Pada masa perundagian, masyarakat prasejarah telah mampu mengatur kehidupannya. Kebutuhan akan makanan di penuhi dengan cara bertani di ladang sawah dan berternak. Kebutuhan akan tempat tinggal dipenuhi dengan membangun pedesaan yang teratur. Mereka menetap di daerah pegunungan, dataran rendah, dan tepi pantai.

B. Kehidupan Sosial

Masyarakat tersusun dalam kelompok yang majemuk. Ada kelompok petani, pedagang, dan tukang (undagi = tukang/pengrajin). Masyarakat pada masa ini terbagi menurut keahlian yang dimiliki. Seseorang diperlakukan sesuai dengan status yang dimiliki, namun gotong-royong tetap terjalin.

C. Kehidupan Budaya

12-kehidupan-ekonomi-masa-perundagianDi masa perundagian, masyarakat telah mahir membuat alat yang menggunakan teknologi. Alat yang dihasilkan terbuat dari logam, yakni perunggu dan besi. Alat ini digunakan untuk bertani, bertukang, peralatan rumah tangga dan perlengkapan upacara. Kemampuan kesenian ditunjang oleh teknologi dan spesialisasi dalam masyarakat. Munculnya golongan undagi/pengrajin mendukung munculnya golongan seniman. Kepercayaan masyarakat prasejarah dari masa ini melanjutkan kepercayaan masyarakat dari masa sebelumnya, dengan aturan yang semakin jelas dan ketat, serta ada hukuman terhadap pelanggaran tertentu.

10-kehidupan-ekonomi-masa-perundagian11-kehidupan-ekonomi-masa-perundagian

 

Peninggalan Zaman Praaksara

Zaman prasejarah atau praaksara tidak meninggalkan bukti-bukti berupa tulisan. Zaman ini hanya meninggalkan benda-benda atau alat-alat hasil kebudayaan manusia. Peninggalan itu disebut artefak yang terbuat dari batu, tanah liat, dan perunggu.

Alat Batu

A. Kapak Genggam

Kapak genggam atau kapak perimbas merupakan batu yang dibentuk semacam kapak. Teknik pembuatannya masih kasar dan hanya satu sisi saja yang tajam. Alat tersebut belum bertangkai, sehingga digunakan dengan cara digenggam. Ditemukan di daerah Lahat (Sumatera Selatan), Kalinda (Lampung), Awang Bangkal (Kalimantan Selatan), Cabbengge (Sulawesi Selatan) dan Trunyan (Bali).

7-kehidupan-ekonomi-masa-bercocok-tanam

B. Alat Serpih

Alat serpih merupakan batu sisa pembuatan kapak genggam yang dibentuk menjadi tajam. Alat ini berfungsi sebagai serut, gurdi, penusuk dan pisau. Ditemukan di daerah Punung, Sangiran dan Ngandong (Lembah Bengawan Solo), Gombong (Jawa Tengah), Lahat, Cabbengge, Adan Mengeruda (Flores).

13-alat-serpih-masa-praaksara

C. Sumatralith

Nama lain alat ini adalah kapak genggam Sumatera. Teknik pembuatannya lebih halus dari kapak perimbas. Bagian tajam sudah ada pada kedua sisi. Ditemukan di daerah Lhokseumawe (Nangroe Aceh Darussalam) dan Binjai (Sumatera Utara).

14-sumatralith-masa-praaksara

D. Beliung Persegi (Kapak Persegi)

Beliung Persegi merupakan alat yang permukaannya memanjang dan berbentuk segi empat. Seluruh permukaan alat tersebut telah digosok halus. Sisi pangkal diikat pada tangkai, sementara sisi depan diasah sampai tajam. Beliung persegi berukuran besar berfungsi sebagai cangkul, sedangkan yang berukuran kecil berfungsi sebagai alat pengukir rumah atau pahat. Ditemukan di Pulau Jawa, Sumatera, Bali, Lombok dan Sulawesi.

15-beliung-persegi-masa-praaksara

C. Kapak Lonjong

8-kehidupan-ekonomi-masa-bercocok-tanamKapak lonjong merupakan alat berbentuk lonjong yang seluruh permukaannya telah digosok halus. Sisi pangkal agak runcing dan diikat pada tangkai. Sisi depan lebih melebar dan diasah sampai tajam. Alat itu digunakan untuk memotong kayu dan berburu. Ditemukan di Pulau Sulawesi, Pulau Flores, Tanibar, Maluku dan Papua.

D. Mata Panah

Mata panah merupakan alat berburu yang sangat penting. Selain untuk berburu, mata panah juga digunakan untuk menangkap ikan. Selain dibuat dari batu, mata panah juga dibuat dari tulang. Mata panah banyak ditemukan di Gua Lawa, Gua Gede, Gua Petpuruh (Jawa Timur), Gua Cakando, Gua Tamatoa Kacicang, Gua Saripa (Sulawesi Selatan).

16-mata-panah-masa-praaksara

 

Alat Tanah Liat

A. Gerabah

16-gerabah-masa-praaksaraGerabah merupakan perabotan rumah. Pada masa bercocok tanam, alat tersebut dibuat secara sederhana, belum menggunakan bola pemutar dan teknik pembakaran yang sempurna. Pada masa perundagian, gerabah dibuat dengan teknik lebih maju. Gerabah berfungsi sebagai penyimpanan (wadah) untuk makanan (berupa periuk) dan sesaji (berupa cawan berkaki).

 

Bangunan Megalitik

Bangunan megalitik (mega berarti besar dan lithos berarti batu) adalah bangunan yang terbuat dari batu besar, yang didirikan untuk keperluan kepercayaan. Bangunan megalitik tersebar hampir di seluruh kepulauan Indonesia. Bangunan megalitik mulai muncul sejak masa bercocok tanam dan berlanjut sampai masa perundagian. Jenis bangunan megalitik antara lain sebagai berikut:

A. Menhir

Menhir adalah bangunan berupa batu tegak atau tugu yang berfungsi sebagai tempat pemujaan roh nenek moyang atau tanda peringatan orang yang telah mati.16-menhir-megalitik

B. Dolmen

Dolmen adalah bangunan berupa meja batu, terdiri atas batu lebar yang ditopang oleh beberapa batu lain. Dolmen berfungsi sebagai tempat persembahan untuk memuja arwah leluhur. Biasanya dolmen ditemukan bersama dengan kubur batu.19-dolmen-megalitik

C. Sarkofagus

Sarkofagus adalah bangunan berupa kubur batu yang berbentuk seperti lesung dan diberi tutup.

20-sarkofagus-megalitik

D. Kubur Peti

Batu Kubur peti batu berupa tempat penguburan dalam tanah. Sisi alas dan tutupnya terbuat dari papan batu.

21-kubur-batu-megalitik

E. Waruga

Waruga bangunan berbentuk kubus dengan tutup berbentuk atap rumah.

22-waruga-megalitik

F. Punden Berundak

Punden berundak berupa bangunan bertingkat yang dihubungkan tanjakan kecil. Punden berundak berfungsi sebagai tempat pemujaan terhadap roh nenek moyang. Biasanya di tiap tingkat didirikan menhir.

23-punden-berundak-megalitik

G. Arca

Arca megalitik menggambarkan binatang dan manusia. Binatang-binatang yang biasa digambarkan adalah gajah, harimau dan monyet.

23-arca-megalitik

 

Alat Perunggu

A. Nekara Perunggu

Nekara berupa alat bunyi-bunyian mirip gendering. Di Indonesia, nekara ditemukan dalam berbargai ukuran. Nekara berukuran kecil disebut moko.

11-kehidupan-ekonomi-masa-perundagian

B. Kapak Perunggu

Bentuk kapak perunggu bermacam-macam, seperti corong (disebut kapak corong), ada yang menyerupai pahat dan jantung (tembilang). Selain sebagai alat untuk bekerja, kapak perunggu juga digunakan sebagai alat kebesaran dan upacara.

25-kapak-perunggu-megalitik

C. Bejana Perunggu

Bejana perunggu benda seperti gitar Spanyol yang tidak bertangkai. Permukaan luar benda tersebut dihiasi pola anyaman simetris.

D. Arca Perunggu

Bentuk arca perunggu yang ditemukan bermacam-macam. Umumnya berbentuk orang dan binatang. Arca perunggu ditemukan di Bankinang (Riau), Lumajang (Jawa Timur) dan Bogor (Jawa Barat).

26-bejana-perunggu-megalitik

 

Alat Besi

Alat dari besi tidak banyak ditemukan di Indonesia. Biasanya alat dari besi ditemukan bersamaan dengan alat dari perunggu. Alat dari besi digunakan sebagai alat keperluan sehari-hari bekal kubur. Jenis-jenis alat yang dibuat dari besi adalah: Mata kapak yang dikaitkan pada tangkai kayu, yang digunakan untuk menorah kayu atau batu. Mata sabit untuk menyabit tumbuh-tumbuhan. Mata pisau. Mata tembilang. Mata pedang. Cangkul. Tongkat.

27-alat-besi-megalitik

Berikut ini adalah Video Pembelajaran Sejarah, Materi “Perkembangan Masyarakat Sejarah di Indonesia” :

Jika Anda merasa artikel ini bermanfaat silahkan copy dimana saja dan mohon kerelaannya untuk mencantumkan link berikut ini: https://abelpetrus.wordpress.com/history/perkembangan-masyarakat-prasejarah-di-indonesia/