DEVDAN Treasure of the Archipelago: Saya Bangga Menjadi Indonesia

DEVDAN Treasure of the Archipelago: Saya Bangga Menjadi Indonesia

 Abel Petrus

Devdan 3

DevdanAwalnya saya menulis tentang pertunjukkan Devdan ini adalah untuk mengisi konten salah satu majalah Traveller di Bali. Namun karena suatu hal yang tidak memungkinkan majalah tersebut terbit, maka saya publikasikan tulisan ini di blog saya. Majalah traveller tersebut saat itu adalah media dimana saya bisa memenuhi hasrat menulis dan tentunya mendapatkan fee yang lumayan untuk tambahan uang jajan dan bensin saya.

Mungkin bisa dikatakan saya beriklan, ya… sebab saya dapat tiket gratis, hehehe…. Tetapi tidak hanya itu, dalam pertunjukkan Devdan ini saya mendapatkan banyak manfaat, terutama mengenal kekayaan alam dan budaya bangsa kita, Indonesia, yang karenanya kita patut bangga menjadi Indonesia, “Saya Bangga menjadi Indonesia”. Cerita ini singkat, tapi inilah gambaran dari kekayaan bangsa kita. Selamat membaca…

Devdan 2Sesuai dengan namanya, Devdan berarti harta kekayaan yang agung dan mulia sebagai berkah yang berlimpah dari Yang Maha Kuasa. Kekayaan alam dan budaya Indonesia sengaja dilestarikan, diwariskan, dan diperkenalkan kepada seluruh bangsa dalam sebuah pertunjukkan yang berdurasi 90 menit di Bali Nusa Dua Teater selama 4 kali dalam sepekan.

Misi yang diusung oleh para pencetus pertunjukkan Devdan Treasure of the Archipelago, juga merupakan berkah yang mulia dari Yang Maha Kuasa. Misi mereka sangat mulia, yakni memperkenalkan kepada dunia luar dan kepada masyarakat Indonesia sendiri untuk mencintai perbedaan dalam agama, budaya, usia, dan gaya hidup sehingga harta kekayaan Nusantara dapat berlangsung dinamis dan harmonis. Devdan, bagi saya adalah pengantar saya untuk berkeliling Indonesia, menikmati segala harta kekayaan alam dan budaya yang adiluhung.

Ya… it’s amazing. Pertunjukkan ini adalah yang pertama kali dan satu-satunya di Indonesia yang paling menakjubkan dan memastikan saya untuk memilih hiburan yang sempurna selama berlibur di Bali. Sebuah pertunjukkan yang terinspirasi dari budaya Indonesia yang dipadukan dengan teknik akrobatik, perpaduan antara tari tradisional dan modern serta kontemporer menjadi satu ke dalam sebuah adegan teateristik kontemporer dengan dibumbui efek-efek audio-visual teknologi mutakhir.

Pertunjukkan dimulai jam 19.00 Wita, karena takut tidak dapat tiket, maka saya sudah memesan 5 jam sebelumnya, sekaligus memesan kursi dengan viewpoint yang nyaman untuk menyaksikan pertunjukkan. Sebelum pertunjukkan para pemandu sudah berdiri menyambut penonton dengan ramah. Salah satu dari pemandu, menyambut penonton dengan meriah, sambil membawa alat pengeras (Toa). Suaranya nyaring dan agak kemayu, sangat menghibur dan lucu. Sampai di depan pintu masuk gedung pertunjukkan, saya lihat ada beberapa penonton yang masih menyempatkan berfoto dengan background poster Devdan Treasure of the Archipelago berukuran besar. Begitu masuk ke dalam gedung, saya diantar ke kursi. Sambil menunggu acara dimulai, saya sempatkan untuk melihat sekeliling ruang pertunjukkan dan panggung dari tempat duduk saya. Gedung pertunjukkan yang ber-AC ini ternyata sangat luas, jika diperkirakan dari kursinya saja mungkin sekitar 600-an kursi kulit yang disetting sesuai dengan gedung pertunjukkan. Panggung terlihat sangat luas, mungkin sekitar 18 meter. Di bagian depan panggung terlihat ada kolam selebar panggung dan di sisi kanan terdapat dinding tebing sebuah bukit.

Saya melirik jam ditangan saya, jam sudah menunjukkan 19.00 Wita, acara sudah dimulai. Diawali dengan adegan sekelompok wisatawan memasuki hutan (monkey forest) di Ubud Bali yang dipandu oleh seorang guide yang cerewet, lucu, energik dan kemayu. Baru sadar, penyambut penonton di depan tadi adalah salah satu pemeran pertunjukkan ini (Hehehe…). Dengan berpakaian ala turis, mereka berpose mengambil foto dari segala arah. Dalam adegan ini dikemas dengan unsur-unsur komedi yang jenaka dengan berfoto bersama monyet. Kemudian adegan ini tiba-tiba jatuh ke tangan dua anak yang merasa bosan dengan jadwal tur mereka, lalu mereka keluar dari rombongan tur, berlari ke arah hutan. Mereka berdialog dengan singkat kemudian berakhir ketika mereka naik ke sebuah bukit dan menemukan peti harta karun berisikan benda-benda tradisional. Mereka membuka peti tersebut, yang pertama mereka ambil adalah udeng, ikat kepala khas Bali, sehingga mereka terbawa ke dalam kebudayaan Bali.

Kedua anak kecil itu ikut dalam suasana religius Bali. Dalam adegan ini saya menyaksikan berbagai macam hasil kebudayaan Bali, seperti Odalan (upacara keagamaan), tari Pendet, Lesung, dan Kecak. Tariannya sangat energik dan tentunya menggunakan efek-efek audio-visual, asap yang berhembus pada saat tarian kecak sungguh membawa penonton seperti melihat para dewata sedang menari diatas awan. Kostum para pemain sangat unik, sedikit dimodifikasi, namun tidak menghilangkan karakteristik pakaian adat Bali.

Adegan kemudian dilanjutkan kepada kedua anak kecil tadi yang membuka peti kembali dan mengambil Ulos (kain khas Sumatera). Mereka pun terbawa ke alam Sumatera. Tarian Saman khas Aceh menjadi salah satu kekaguman saya dan penonton lainya, karena penari terlihat begitu kompak dengan gerak-gerakan yang zigzag, saling silang sambil menyanyikan lagu dengan lirik perpaduan Bahasa Arab dan Gayo yang bersemangat. Disini saya melihat adegan akrobatik yang belum pernah saya lihat, jelas sekali unsur modernistik bercampur dengan seni tradisional. Sungguh memukau, saya dikejutkan dengan tarian Pecut dan efek cahaya yang redup dengan berlatar belakang semburan-semburan api. Tari ini sebagai simbol keksatriaan bangsa Indonesia dan berlimpah ruahnya kekayaan fauna Indonesia. Tidak hanya itu adegan yang membuat saya terkejut dan terkagum-kagum, secara tiba-tiba orang turun dengan sehelai kain sutra dibalik tabir hujan dengan cahaya yang perlahan meredup, dan dibarengi dengan Tarian Hujan sebagai simbol rasa syukur kepada Yang Maha Kuasa. Hasil karya berupa alat tenun pembuat Songket pun dipertunjukkan dengan koreografi yang kreatif, memodifikasi alat tenun menjadi perlengkapan sebuah tarian. Perform lainnnya di Sumatera adalah Acrobatic Flag Dance yang menyimbolkan kejantanan pria Sumatera dalam sebuah pertarungan sengit. Dalam adegan ini para pemain memperlihatkan kelihaiannya dalam berakrobat, pertarungan sengit dengan menggunakan panji-panji peperangan, melompat-lompat dan berterbangan menghindari setiap hempasan bendera yang mengarah kepadanya, mereka bagaikan kancil yang lincah dan bahkan mereka seperti terbang bagai burung.

Kedua anak kecil tadi kemudian kembali ke atas bukit, sama seperti dilakukan sebelumnya, namun kali ini mereka menemukan sebilah Keris, senjata dengan unsur mistis khas Pulau Jawa. Dalam segmen ini pertunjukkan diawali dengan para ksatria yang saling menunjukkan kejantannya dalam Dance Warrior, aksi akrobatik juga tidak pernah lekang dalam setiap adegan ini. Trik panggung yang sangat berani adalah salah satu pemeran ditidurkan di atas tombak yang berdiri tegak dengan ujung tombak yang ditujukan tepat pada ulu hatinya, tiba-tiba menembus hingga bagian depan tubuhnya. Semua penonton serentak, berteriak histeris. Saat itu saya merasa jantung saya deg-degan, rasanya seakan saya sendiri yang ditusuk dengan tombak menembus dari belakang tepat di ulu hati hingga ke bagian tubuh saya. Sungguh luar biasa…!!!

Adegan selanjutnya adalah Wayang Kulit yang dikombinasikan dengan tarian tersakral di Jawa, Bedhaya. Kemistisan budaya Jawa sangat kental atmosfernya dalam adegan ini. Lagu sebagai pendukung suasana dan efek cahaya memberikan kesan keheningan membawa penonton ikut kedalamnya, seakan kami di bawa menghadap kepada kekuatan yang Maha Dahsyat Sang Pencipta. Sungguh sangat mengagumkan, unsur kelembutan dan kemistisan budaya Jawa menarik animo penonton untuk menerka-nerka apa adegan selanjutnya? Serta merta kami diperlihat sebuah kedinamisan budaya, dari budaya tradisional yang berkembang dan berdampingan harmonis dengan budaya modern. Adegan perpaduan dua budaya ini diawali dengan para pria Jawa yang menggoda para gadis cantik bergaya hip-hop, tarian mereka pun bercampur antara ­hip-hop dan tradisional.

Adegan tiba-tiba terganti, saya seperti diajak kesebuah hutan belantara yang dihuni sekawanan kera. Teman disebelah saya, Mike Anto bertanya, “Dimana nich…?”. Saya tidak bisa menjawab, hanya mengikuti dan terbahak-bahak karena ulah kera-kera ini mengundang rasa penasaran para pemburu. Manusia yang ingin memburu kera, namun berbalik kera-lah yang menjadi pemenang adegan ini. Kemudian penonton mulai paham bahwa pulau ini adalah Pulau Kalimantan. Serentak mereka berteriak, “Owh… Borneo!!!” Tarian dari sekumpulan wanita yang disertakan dengan hujan dan sambil bermain air di kolam, telah menjawab pertanyaan penonton tentang pulau ini. Kemudian dilanjutkan dengan sekumpulan orang Dayak, suku asli Pulau Kalimantan yang menari sambil membawa bulu burung Enggang. Dalam segmen ini para penari wanita mengajak penonton untuk menari mengikuti koreografi mereka. Saya diajak dalam tarian itu, meskipun tidak bisa mengikutinya tapi saya sangat menikmati dengan memegang bulu burung Enggang dan dituntun oleh wanita cantik berpakaian Dayak.

Akrobatik yang memukau ketika di Pulau Kalimantan ada sepasang kekasih yang saling berpegangan mesra, berayun pada sehelai tali, seakan mereka menikmati kekayaan alam dan budaya yang mereka miliki dengan penuh cinta. Disajikan dengan gaya ballet akrobatik dan musik yang dimainkan pun sangat mendukung suasana romantis dari sepasang kekasih itu.

Keindahan, tentunya tiba-tiba terhenti ketika anak kecil menarik Koteka dari dalam peti harta karun dan menyimpulkan perjalanan mereka di Papua, dimana laki-laki menari dan hampir menusuk mata kawannya dengan wortel seperti tonjolan naik dari pangkal paha mereka (Koteka). Mereka memainkan Tifa, alat khas Papua yang dipadukan unsur modernistik. Papua menjadi akhir pertunjukan Devdan Treasure of the Archipelago. Sungguh membuat saya terkagum-kagum pada budaya saya sendiri, sehingga memancing saya untuk menjelajahi agar lebih mengenal lebih jauh lagi tentang budaya Indonesia.

Akhirnya, saya berpendapat pertunjukkan Devdan Treasure of the Archipelago membuat saya merasa bangga dan tidak akan pernah malu mengakui diri saya adalah Indonesia…!!!

I Love Indonesia

bhineka-tunggal-ika

Jika Anda merasa artikel ini bermanfaat silahkan copy dimana saja dan mohon kerelaannya untuk mencantumkan link berikut ini: https://abelpetrus.wordpress.com/creativity/devdan-treasure-of-the-archipelago-saya-bangga-menjadi-indonesia/

wordpresscome

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s