Pertimbangan Agama dan Kasta

BALI ADNJANA, SENIN PON 20 JULI 1925, NO. 21 Th. II

PERTIMBANGAN AGAMA DAN KASTA

ncp-mdb

Pertimbangan Memperhatikan Zaman Tentang Kasta di BaliAdapun kasta (tulen) itu dipandang sebagai warisan leluhur kita dari dulu. Sebab munculnya kasta belum bisa dipastikan, ada yang mengatakan itu hanya perbuatan orang saja, kalau di dalam lontar, keluar dari srestya batara Brahma katanya. Itulah yang masih meragukan, tetapi bagaimanapun kasta itu harus kita tetap terima sebagai warisan leluhur. Sebab tidak ada orang yang membuang warisan orangtuanya dan mencari warisan orang lain. Itulah terutama yang menghalangi penghapusan kasta pada waktu ini, bukan karena ingin dikatakan pandai, sakti, kaya, mulia, itu hanya sifat-sifat kita saja. Buktinya tidak ada orang berkasta dungu dibilang pandai.

Tentang perasaan terhadap kasta, lambat laun mungkin akan bisa berkurang dan merasa sederajat dengan orang lainnya. Sebab perasaan itu muncul dari hati yang tulus. Misalnya perasaan orang pandai, bodoh, pemarah, sabar. Seorang yang sudah wiku (berkasta) hendaknya mempunyai perasaan yang sama terhadap orang yang tidak berkasta, dan dapat memberikan penerangan bagi orang yang kegelapan.

Begitu juga dengan orang sudra yang masih merasa kegelapan. Tandanya kenapa suka dihinakan kalau memang dirinya tidak nista (pandai), itulah sebabnya perasaan kita belum bisa sama karena bermacam-macam sifat yang mempengaruhinya. Seandainya saja orang-orang semuanya sudah pintar, tentu mudah untuk menyamakan. Kendatipun begitu sekarang ini banyak juga orang yang sudah menyadari kesamaannya. Singkatnya kalau sudra dengan orang berkasta setara pengetahuannya mestinya dapat juga mencapai perasaan sama. Tetapi kalau pengetahuannya tidak setara, susah sekali menyamakan perasaan.

Kebanyakan orang sudrayang selalu menurut kepada orang yang berkasta, jika itu tidak menjadi kewajibannya, bukankah itu salahnya sendiri ? Tentunya dia itu seorang penakut. Jadi bukan kasta itu yang semata-mata menghina.

Widi memang betul satu, urip pun satu juga. Tetapi oleh kekuasaan Widi, urip itu dibedakan ada yang panjang dan ada yang pendek. Begitu pun keadaan dunia dibedakan juga, atas bawah, tinggi rendah, dll. Memang semuanya itu berasal dari satu, buktinya dalam kanda-kanda itu dunia ini berasal dari Windu yang mengandung air dan sama rata keadaannya.

Tinggi rendah dan kaya miskin itu bukan dari perbuatan indrya, melainkan merupakan garis hidup dari Tuhan. Malah perbuatan indrya itu hanya menimbulkan perasaan hina belaka. Jadi agama itu harus benar-benar dicintai, sambil mengejar kemajuan zaman. Kalau kita cinta pada agama, tetapi enggan melangkahkan kaki mengejar kemajuan atau sebaliknya mengejar kemajuan tetapi tidak berpedoman kepada agama adalah sama salah dan kelirunya.

Agama itu peraturan hidup di dunia akhirat (sekala niskala) yang diwariskan oleh leluhur kita; yang mana tentunya lebih sempurna tentang kemanusiaan. Oleh karena pada saat ini saudara-saudara kita kurang memahami agama, maka  ia tidak mengerti tentang kemanusiaan. Malah ada juga yang mau meniru agama atau peraturan orang lain. Itulah tandanya kurang sempurna menerima warisan leluhur kita.

Memperhatikan arti kasta di Bali dan Lombok, kasta hanya diartikan Triwangsa saja, sedangkan kasta sebenarnya terdiri atas 4 yaitu :

  • Brahmana : mempunyai kewajiban memberikan pimpinan kepada tiga kasta tadi yaitu pimpinan untuk keselamatan bagi jiwa yang oleh penduduk Bali dan Lombok lazim disebut dengan “kamoksan”.
  • Kesatrya : diwajibkan memerintah negeri, meluaskan jajahannya, membuat ketentraman negeri dan menjaga keamanan.
  • Weisya : diwajibkan memberikan perlindungan kepada sesama manusia, yaitu membuatkan rumah (pertukangan) dan menjaga kerusakan negeri dan harus memperbaikinya.
  • Sudra : diwajibkan membantu keberatan ketiga kasta tadi, dan apa-apa perintahnya harus dituruti.
Jika Anda merasa artikel ini bermanfaat silahkan copy dimana saja dan mohon kerelaannya untuk mencantumkan link berikut ini: https://abelpetrus.wordpress.com/history/bali-adjana/pertimbangan-agama-dan-kasta/