Father: Ignatius M Soepono

Ignatius M. Soepono

06 Juni 1942 (Alm.) Ignatius M. Soepono lahir. Ia adalah sosok Ayah yang penuh dengan kedisiplinan dan humoris, terkadang saja ia mudah marah, namun itu semua demi kebaikan anak dan keluarga yang ia pimpin. Ia juga seorang pahlawan yang gagah berani di zamannya, Perebutan Papua Barat, Gerakan Ganyang Malaysia ia sempat mengalami, tapi ia tidak pernah dihargai oleh bangsanya, bagaikan batu kerikil yang memang tidak pernah dipandang sebelah matapun. Hanya kami, istri (Ibu Monika Sri Kartati), anak-anak (Cicilia Nuning Setiati, Bambang Prasetyo, Widhianto, Laurentia Layland Dewi Setiati, Stephanus Hario Lelono, Petrus Haryo Sabtono, dan Cicilia Dewi Ayu Rengganis) serta cucu-cucunya lah yang dengan setia menghormatinya dan mengasihinya hingga akhir hayatnya. Semoga anak-anak yang ditinggalnya dapat menjadi lebih baik dari dirinya…

Semoga bapak di surga sana dapat mendokan kami untuk lebih menghargai hidup dalam keimanan kami masing-masing dan saling mengasihi satu sama lain.

Untuk Kakak-kakak dan Adikku serta keponakan-keponakanku tersayang.
Salam Sejahtera bagimu…
Tuhan beserta kita.

Surat[1] ini ku tulis berdasarkan apa yang kualami selama aku di rumah. Saat itu aku baru tiba di Jakarta pada tanggal 21 Oktober 2010 Dini Hari. Kemudian aku tiba dirumah pada jam 2 dini hari. Sebelum aku melepas lelah karena perjalanan, aku melepas rindu bersama ibu dan adikku. Aku juga menceritakan tujuanku ke Jakarta, yakni ingin mengikuti ujian CPNS di Departemen Kebudayaan dan Pariwasata. Tidak lama kami melepas rindu, kami tidur. Aku tidur dikamar bapak, sebelum tidur seperti biasa aku selalu berdoa, memohon agar aku dapat istirahat dengan tenang dan dapat bangun dikeesokan hari dengan tubuh yang sehat dan iman yang semakin kuat kepada Tuhanku Yesus Kristus.

Setelah berdoa, aku pun tidur dengan lelap. Semakin lama aku masuk dalam kelelapanku, semakin aku masuk ke dalam mimpi yang mungkin tidak pernah diharapkan oleh setiap orang. Dalam mimpiku itu aku dapat merasakan bagaimana bapak (Mbah Kakung) menghadapi Sakrat Maut yang mejemputnya. Agak sedikit sakit karena aku merasakan muntah dan menahan sesuatu yang aku sendiri tidak tahu itu. Kemudian aku mendengar bisikan yang menyuruh aku berdoa Bapa Kami. Akupun berdoa Bapa Kami, alam pikirku aku baik-baik saja namun doa yang aku lantunkan itu seperti orang yang terbata-bata karena menahan sakit. Perlahan lantunan doa Bapa Kami terdengar ditelingaku dengan terbata-bata, namun doa itu belum lengkap diucapkan sudah hilang tak terdengar. Akan tetapi aku merasakan doa itu terdengar di dalam hatiku dengan keras diucapkan dan dengan penuh kepercayaan yang sangat. Seiring dengan usainya doa itu diucapkan, aku merasakan melayang dibawa oleh sesuatu yang hanya terlihat cahayanya saja. Damai rasanya saat aku dibawa ke atas yang aku sendiri tidak tahu kemana aku akan dibawa. Dalam perjalanan itu, aku melihat disekelilingku banyak sekali bintang yang memancarkan cahaya bagai permata yang berkelap-kelip, sungguh indah. Setelah itu aku tidak tahu lagi apa yang kurasakan dan apa yang aku lihat, karena aku terbangun dari tidurku. Saat aku terbangun nafasku terasa sesak, namun anehnya tubuhku terasa lebih ringan dari sebelumnya.

Aku terbangun dalam mimpiku, aku melihat jam di telepon selulerku waktu baru menunjukkan jam 3.30 WIB. “Masih pagi, tapi barusan aku mimpi apa ya?” kataku dalam hati. Karena masih sangat pagi aku melanjutkan tidurku, sambil merebahkan kembali tubuhku, aku terus bertanya-tanya mimpi apa aku, pertanda apakah ini? Karena penasaran atas mimpiku itu, aku belum juga bisa tidur. Hingga jam 4 subuh aku terus bertanya-tanya mimpi apa gerangan? Ya sudahlah mungkin itu hanya bawaan pikiranku karena sampai saat ini (21 Oktober 2010), satu tahun setelah bapak meninggal, aku masih belum bisa membahagiakannya. Bahkan sempat selama 3 tahun aku tidak pernah bertemu dengannya, terakhir melihatnya ia sudah kaku didalam peti mati. Akupun tertidur kembali sambil membawa penyesalan yang sangat dalam. Dalam tidurku ini aku memasuki alam mimpi kembali, tapi ini beda dari sebelumnya. Aku melihat suatu lembah yang indah dan sejuk. Tak lama aku melihat lembah itu, aku mendengar doa Bapa Kami yang sayup-sayup terdengar ditelingaku tetapi juga terbata-bata seperti yang kudengar dan kudoakan dalam mimpiku sebelumnya. Tapi kali ini walau terbata-bata aku mendengar doa itu hingga selesai. Selesai Doa Bapa Kami itu diucapkan, aku mendengar suara yang tidak asing dalam hidupku. Suara itu adalah suara bapak yang seperti merintih kesepian dan kesakitan yang sangat, suara itu seperti memohon kepadaku. “Doakan bapak, hanya kamu yang bisa bapak mintai tolong”, demikian permohonan itu kudengar. Aku mendengar suara itu tapi aku tidak melihat sosok yang memohon. Aku masih penasaran, suara itu memang suara bapak, tapi aku masih tidak percaya yang meminta itu adalah bapak.

Suasana dilembah itu yang sebelumnya sangat indah dan sejuk kini berubah menjadi kelam dan gersang, namun terdengar suara pujian nada memelas memohon belas kasih. Suara pujian yang terdengar bagaikan suara rintihan itu semakin lama semakin sayup terdengar. Namun diganti dengan suara yang sangat aku kenal, suara itu adalah lantunan doa Salam Maria yang didaraskan oleh bapak. Lagi, kembali kudengar suara permohonan yang sama, tapi kali ini kudengar dengan tangisan, “Doakan bapak, hanya kamu yang bisa bapak mintai tolong”. Permohonan kali ini bapak meminta juga untuk membersihkan tempat tidurnya. Kemudian hilang, akupun tidak lagi berada dilembah itu.

Demikian mimpi itu kulihat dalam tidurku. Setelah aku bangun di pagi harinya, aku tidak bicarakan mimpiku itu kepada siapapun, termasuk juga kepada ibu. Biar aku rasakan sendiri dan aku juga berusaha mencari tahu apa makna mimpi itu. Mungkinkah bapak meminta anak-anaknya untuk mendoakannya? Tapi mengapa permintaan terakhirnya dalam mimpiku itu bapak memohon untuk membersihkan tempat tidurnya? Kulihat kamar yang semasa hidupnya terlihat bersih, hanya saja kasur yang barusan aku tiduri agak sedikit berantakan sepreinya. Akan tetapi, masak karena itu saja? Lalu, apa artinya bapak meminta aku untuk mendoakannya? Kemudian aku teringat kesaksian seseorang tentang Api Penyucian yang pernah aku baca di internet. Lalu timbul pertanyaan dalam benakku, mungkinkah bapak datang padaku untuk didoakan karena dia masih berada di dalam Api Penyucian? Penasaranku tetap menghantui alam pikirku.

Aku mandi dan aku berencana untuk ke makam bapak. Kebetulan aku juga sebelum sampai dirumah kemarin aku sudah meminjam motor kepada kawanku (Fransiscus Xaverius Yunus) demi kepentinganku selama di Jakarta, termasuk juga ke makam bapak. Selesai mandi aku pamit ke ibu mau ke makam bapak, aku sengaja tidak mengajak ibu ke makam bapak, karena setelah ke makam aku masih ada kepentingan lain untuk menyelesaikan segala persyaratan pendaftaran CPNS di Departemen Kebudayaan dan Pariwiasata. Sesampainya di TPU (Tempat Pemakaman Umum) aku kebingungan dimana makam bapak, walau aku tahu blok (patokan) dimana bapak dimakamkan tapi aku tidak melihat dimana makam bapak. Tanpa aku sadari aku meneteskan air mata, karena tidak melihat makam bapak ada dimana. Di dalam hati aku berdoa Bapa Kami sambil berjalan kearah blok (patokan). Ternyata makam bapak tidak terlihat karena Salib (nisan) bapak jatuh. Tetapi syukur tidak hilang, Salib makam bapak ada di atas makamnya, walau tidak berdiri seperti Salib-Salib dimakam itu. Setelah menemukan makam bapak dalam hati aku berseru, “Ya Tuhan terima kasih engkau telah mengarahkan aku ketempat tidur bapakku”. Disitu aku baru sadar, mimpiku semalam dan permohonan bapak yang meminta aku untuk membersihkan tempat tidurnya adalah makam bapak yang terlihat tidak seperti makam-makam yang ada disekelilingnya. Banyak ranting-ranting pohon dan rumput-rumput kering yang sepertinya terbawa oleh arus air hujan yang ada diatasnya. Aku lihat memang makam bapak terletak diturunan yang menjadi arus air bila hujan. Tapi makam bapak cukup kuat, hanya saja Salibnya yang jatuh, tidak kuat menahan ranting-ranting pohon yang terbawa arus kearah makam bapak. Aku membersihkannya, menjauhkan ranting-ranting pohon dan rumput-rumput kering yang hampir menutupi makam bapak. Aku taruh ranting-ranting dan rumput-rumput kering itu jauh ke arah tanjakan. Tujuanku adalah untuk menghambat air yang mengalir dari atas ke makam bapak jika terjadi hujan. Aku juga mencabuti rumput-rumput liar yang tumbuh diatas gundukan makam bapak. Setelah itu aku menggali lubang tempat Salib berdiri, dalamnya sekitar sejengkal tanganku. Aku menggalinya dengan mengorek-ngorek tanah, kemudian aku tancapkan Salib makam bapak dan aku timbun kembali dengan tanah dan bebatuan agar kuat menahan Salib untuk tetap berdiri.

Setelah aku membersihkan makam bapak, akupun berdoa memohon keselamatan kepada Tuhan untuk bapakku yang masih berada dalam Api Penyucian. Kemudian aku melanjutkan rencanaku untuk menyelesaikan segala kebutuhanku untuk mengikuti tes CPNS.

Hari berlalu. Tanggal 24 Oktober 2010 adalah hari Minggu, dimana hari aku menyempatkan diri untuk menenangkan hati dalam Damai Tuhan. Aku bersama ibu ke Gereja. Saat di Gereja aku mendengar pengumuman pada tanggal 2 November 2010 adalah hari untuk mendoakan arwah-arwah yang telah dipanggil Tuhan. Sesampainya dirumah aku lihat Kalender Liturgi Gereja memang setiap tanggal 2 November adalah tradisi umat Katolik untuk mendoakan arwah-arwah yang telah dipanggil Tuhan. Gereja Santo Barnabas Pamulang memberikan kesempatan kepada umat untuk mendoakan arwah-arwah keluarga-keluarganya. Jadwal yang diberikan selama 9 hari dalam bulan November. Walau mendoakan arwah-arwah yang telah dipanggil Tuhan biasa didoakan dalam setiap Doa Syukur Agung, aku merasa inilah kesempatan aku untuk memenuhi permintaan bapak.

Tanggal 1 November 2010, dalam tidurku aku mengalami mimpi yang sama. Bapak meminta aku untuk mendokannya agar ia tenang dalam masa Penyucian imannya. Keesokan harinya, aku ke Gereja sesuai dengan jadwal yang diberikan oleh Gereja Santo Barnabas Pamulang. Dalam doa itu, kami mendoakan arwah-arwah yang telah meninggal dengan Doa Novena kepada arwah-arwah di Api Penyucian. Selain itu juga Gereja menyediakan sebuah buku suci untuk menuliskan nama-nama orang yang telah dipanggil Tuhan. Kutulis nama bapak dalam buku suci tersebut, Ignatius Mas Soepono. Sedih rasanya, tidak menyangka bapak telah berada diantara nama-nama orang yang telah dipanggil Tuhan. Tetesan air mataku semakin deras, terutama pada saat membacakan Doa Novena kepada arwah-arwah di Api Penyucian.

Tiga hari berlalu di bulan November, jadwal Doa Novena kepada arwah-arwah di Api Penyucian. Di malam ketiga Doa Novena aku mengalami mimpi yang berbeda dari sebelumnya, suara permintaan untuk didoakan bukan hanya suara bapak yang kudengar, melainkan banyak suara yang merintih, memohon untuk didoakan. Selain itu juga aku melihat bapak diantara mereka yang memohon. Walau bapak merintih, namun aku melihat kedamaian dalam wajahnya. Pakaian yang dikenakannya pun sangat indah. Bapak terlihat mengenakan jas, seperti yang kulihat ketika ia terlelap dalam peti matinya. Akan tetapi ia terlihat lebih bersih dan segar, tidak seperti pada saat ia berada dalam peti mati, ia terlihat pucat, meski agak sedikit tersenyum. Hanya itu yang kulihat dalam mimpi di hari ketiga Doa Novena kepada arwah-arwah di Api Penyucian.

Di hari kesembilan, di akhir Doa Novena kepada arwah-arwah di Api Penyucian, aku mengalami lagi mimpi. Kali ini tidak lagi kudengar rintihan dan permohonan bapak untuk didoakan. Melainkan pujian yang merdu dan penuh kebahagiaan seperti yang ku dengar setiap kali di Gereja. Kudus…Kudus…Kuduslah Tuhan. Lagu pujian itu yang kudengar. Setelah selesai lagu itu dinyanyikan, bapak seperti mendekatiku, walau sebenarnya sangat terasa jauh. Bapak mengatakan, “Bapak merasa lebih tenang dari sebelumnya”. Kemudian ia pergi menjauhiku, namun tetap terlihat jelas. Bapak pergi mendekati mereka yang telah dipanggil Tuhan. Pakaian bapak lebih bagus dari sebelumnya. Wajah bapak pun berseri-seri. Jika kalian ingat saat bapak sedang tertawa atau tersenyum, mungkin seperti itulah aku bisa menggambarkannya. Ia sangat berbahagia sekali.

Ia memang sangat bahagia, walau bapak masih di dalam Api Penyucian. Aku juga merasa bahagia, walau sebenarnya aku bertanya-tanya kapan bapak ke Surga dan lepas dari Api Penyucian? Apa dosa bapak? Sehingga ia masih harus menjalani hari-harinya di Api Penyucian? Akan tetapi teringat kotbah Romo Julianus Puryanto, SCJ bahwa arwah-arwah yang berada di Api Penyucian dan bertahan lama disana, bahkan sampai ribuan tahun bukan karena dosanya, melainkan karena imannya yang disucikan kembali sebelum bertemu dengan Allah Bapa di Surga.

Ya… itu lah yang aku rasakan selama aku berada dirumah. Aku memang tidak lulus CPNS di Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, tetapi aku merasa takdir telah mengarahkan aku untuk mendoakan bapak. Dari mimpi itu semua, aku menyimpulkan bahwa bapak masih membutuhkan kita untuk mendoakannya dan memperhatikannya, terutama adalah makamnya yang hingga kini masih belum layak sebagai makam.

Aku berharap kepada kakak-kakakku dan adikku serta keponakan-keponakanku untuk mendoakan bapak (Mbah Kakung) dan memperhatikan makamnya. Bapak merasakan damai dan bahagia di dalam Api Penyucian bukan karena doa ku, melainkan karena doa kalian yang sayang kepadanya. Kita sebagai anak dan cucunya layak berterimakasih, walau kita berbeda keyakinan. Pesanku bagi kalian yang dekat dengan makam bapak, setidaknya sempatkan sebulan sekali waktu kalian untuk ke makam bapak, membersihkan makamnya dan berdoa memohon keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Esa bagi bapak dan bagi kita semua. Bagi yang jauh aku mohon sempatkan waktu kalian untuk mengunjungi dan mendoakan bapak, jika tidak bisa setidaknya sebulan sekali nyalakan satu lilin dan berdoalah bagi keselamatan bapak. Akan tetapi, menyalakan lilin tidak diwajibkan karena kita masing-masing bisa mendoakan bapak sesuai dengan keyakinan dan kepercayaan kita masing-masing. Walau bapak tidak banyak berpesan melalui mimpi-mimpiku, bapak juga mengharapkan agar kita bisa hidup rukun dan mencintai ibu yang melahirkan kita, mendidik kita hingga dewasa. Itulah tanda terimakasih dan keimanan kita terhadap Tuhan yang telah menitipkan kita kepada orang tua kita, Bpk. Ignatius Mas Soepono (Alm.) dan Ibu Monika Sri Kartati.

Terimakasih.
Salam Damai Sejahtera…
Tuhan Beserta kita semua…


[1] Sebenarnya surat ini ingin aku sampaikan sejak Desember 2010, tapi aku merasa belum saatnya aku untuk menyampaikan ini kepada kalian. Sekarang, mengapa aku baru menyampaikan ini melalui internet, ini disebabkan aku ingin mencatatkan semua peristiwa yang keluargaku alami. Bukan untuk dikenal, melainkan hanya untuk dikenang dan dihormati oleh anak-anak serta cucu-cucunya.

yyesus-animasi