Pesta Perak Imamat P. Rosarius Geli, SVD

Tuhan Memanggil, Tuhan Mendidik
dan Tuhan Mengutus,

Kenangan Tentang Ziarah Imamat Selama 25 Tahun

P. Rosarius Geli, SVD
Mataloko, 26 Juni 1990
Monang Maning Denpasar, 26 Juni 2015

Pembatas Buku Rm Rius DepanPembatas Buku Rm Rius Belakang

Pengantar

Perayaan 25 tahun imamat yang disebut pesta perak imamat adalah sebuah momen sukacita, syukur dan berbagi untuk memberi apresiasi, arti dan makna atas sebuah rentang waktu perjalanan menghidupi panggilan. 25 tahun menjadi titik istimewa untuk menoleh kembali ke belakang, menelusuri tapak-tapak perjalanan hidup panggilan imamat yang telah saya jalani dengan segala suka dan dukanya. Terkait momen istimewa ini, tulisan ini saya buat untuk berbagi dengan menghadirkan kembali kisah-kisah kehidupan dalam perjalanan menelusuri panggilan dan perutusan saya sebagai imam dan sekaligus untuk memenuhi permintaan Panitia Perayaan Perak Imamat dari Paroki Santo Petrus Denpasar dalam rangka menyusun sebuah buku kenangan.

 Latar Belakang Keluarga dan Panggilan.

Sebuah fakta kehidupan yang tidak dapat dipungkiri oleh siapapun adalah bahwa setiap anak manusia hadir ke dunia melalui sebuah keluarga. Tak terkecuali saya sendiri. Saya adalah anak kedua dan laki-laki pertama dari 8 bersaudara, suatu jumlah yang terlalu besar untuk satu keluarga masa kini. Dalam keluarga saya terkenal rajin dan tekun tetapi juga nakal karena sering menggangu saudara-saudari yang lain. Dua orang saudara dan saudari saya (adik-adik saya) yang paling kecil sudah lebih dahulu menghadap Sang Khalik ketika mereka masih kanak-kanak sehingga jumlah kami yang tersisa dan masih hidup sampai saat ini adalah 6 orang.

Bapa dan Mama Romo Rius waktu pernikahan kakak

Bapa dan Mama Romo Rius waktu pernikahan kakak

Kami berasal dari keluarga petani sederhana di kampung Gisi-Mataloko-Ngada, dari pasangan Mama Maria Watu Due (alm.) dan Bapak Marselinus Bei Lena. Mama adalah seorang ibu yang tekun dan setia serta mengasihi kami anak-anak. Bapak adalah seorang pribadi yang disiplin, tegas dan pekerja keras. Untuk menanamkan nilai disipiln ia selalu berkisah kepada kami: “Dulu, bapak saya mengingatkan kami agar kalau tidur malam cepat bangun. Ketika langit mulai memancarkan cahaya (maksudnya fajar mulai menyingsing) dan ayam mulai berkokok harus sudah dalam perjalanan menuju ke kebun sebelum orang lain lebih dahulu menapaki kakinya yang pertama di jalan”. Hal ini dia tunjukkan kepada kami dalam disiplin hidupnya. Bapak memang selalu bangun pagi-pagi sekali saat fajar menyingsing (bhara lau dalam bahasa daerah Ngada) dan sesudah itu membangunkan kami bahkan setelah dia sendiri menyelesaikan suatu pekerjaan. Dari pekerjaan bertani di kebun seperti, mengiris tuak (menyadap mayang enau untuk mendapatkan niranya), beternak sapi, sampai pandai besi (membuat parang), kami memeroleh sumber penghidupan keluarga dan sumber dana pendidikan. Namun penghasilan hanya cukup untuk makan, tidak cukup untuk biaya pendidikan semua anak. Dibandingkan dengan semua saudara-saudariku dalam keluarga, saya lebih beruntung karena mendapat perhatian lebih dari segi pembiyaan pendidikan sebab saya masuk Seminari.

Sejak kecil kami dididik disiplin dan dilatih bekerja keras. Sepulang sekolah harus berangkat ke kebun untuk bekerja atau sekedar memetik sayur atau mengambil makanan untuk babi piaraan dan mengambil kayu bakar. Apalagi ketika saat liburan sekolah tiba, waktu-waktu liburan diisi dengan kerja. Apabila tidak melakukan pekerjaan hukuman menanti. Makanya sejak kecil, kegiatan bekerja di ladang atau sawah sudah menjadi kebiasaan rutin kami.

Sebagai keluarga Katolik sudah sejak kecil kami diperkenalkan dengan tradisi hidup kekatolikan seperti Misa hari Minggu, perayaan: Natal, Paskah dan perayaan-perayaan Gereja lainnya serta doa-doa seperti Rosario. Kalau hari Minggu harus ke gereja untuk mengikuti perayaan Misa. Apabila ketahuan tidak pergi Misa, pasti akan dimarahi bahkan dihukum. Dalam perayaan Misa, ketika melihat imam menyantap hosti kudus yang ukurannya lebih besar dari yang diperuntukan bagi umat dan meminum anggur, saya kepincut ingin seperti itu. Umumnya keluarga-keluarga Katolik di tempat kami, daerah NTT, akan senang, bahagia dan bangga sekali jika ada seorang anggota dari keluarga mereka menjadi rohaniwan-rohaniwati yaitu imam, bruder atau suster. Keluargaku menjadi bagian dari keluarga-keluarga yang menyimpan keinginan dan harapan-harapan seperti itu, apalagi dari saudara mama ada seorang yang telah menjadi bruder.

Jarak kampung tempat tinggal keluarga kami, tempat sekolah dasarku dan gereja paroki asalku berdekatan dengan Seminari Menengah St. Yohanes Berchmans Todabelu Mataloko, sebuah lembaga pendidikan calon imam yang telah berdiri sejak tahun 1936 dan telah menghasilkan ribuan imam. Pandangan mata kami tak pernah lepas dari susunan gedung Seminari yang berdiri rapih teratur dan nampak anggun, setiap kali kami berangkat ke sekolah atau ke gereja dan ke kebun. Pada hari-hari Minggu tertentu pasti kami akan berpapasan dengan para siswa Seminari di jalan-jalan di Mataloko apabila mereka keluar dari tembok-tembok asrama untuk pesiar (jalan-jalan) ke kampung-kampung sekitar Seminari. Bahkan sehabis Misa pada hari Minggu, tak jarang kami pergi ke lapangan sepakbola yang terletak di samping belakang Seminari untuk menonton permainan atau pertandingan sepakbola antara para siswa Seminari maupun antar kelompok masyarakat yang lain.

Karena itu maka ketika menyelesaikan pendidikan di SDK Todabelu I Mataloko, saya ingin masuk Seminari dan bercita-cita untuk menjadi imam. Orangtua, om dan tanta serta para gurupun mendukung cita-cita saya itu. Saat itu saya berumur 13 tahun.

Pendidikan Seminari dan Tahbisan Imam

Awal tahun 1976, saya dan keempat teman tamatan SDK Todabelu I Mataloko Paroki Roh Kudus Mataloko memasuki asrama Seminari bergabung bersama dengan teman-teman lain dari Paroki-Paroki seluruh Keuskupan Agung Ende untuk memulai pendidikan di situ setelah dinyatakan lulus test dari Seminari dan wawancara dengan Pastor Paroki. Perasaan yang muncul ketika pertama kali memasuki Seminari adalah suasana yang hening, tenang, terasa asing. Saat itu saya mulai berkenalan dengan ritual hidup harian Seminari yang disiplin dan teratur sejak bangun pagi sampai tidur malam. Acara yang biasa setiap hari adalah: bangun pagi, bersih-bersih diri, doa dan Misa, makan pagi, sekolah, doa siang dan makan siang, siesta/istirahat siang, kerja/olahraga, bersih-bersih diri, studi, makan malam, rekreasi, bacaan rohani, doa malam dan tidur. Sekali dalam sebulan ada waktu yang disediakan untuk pesiar. Bunyi lonceng adalah tanda waktu untuk beralih dari satu kegiatan atau acara kepada kegiatan atau acara yang lain. Silentium atau saat-saat hening harus dijaga. Suatu kali terjadi keributan di ruang tidur. Seingat saya waktu itu baru seminggu berada di Seminari. Setelah doa malam, dimana waktunya harus silentium dan tidur, ternyata masih ada teman-teman yang berbicara sehingga terasa gaduh. Perfek (bapak asrama atau pamong) diam-diam menyelinap masuk ke ruang tidur dan meminta semua siswa dari blok yang gaduh keluar dari kamar tidur dan berdiri di halaman yang beratapkan langit. Dinginnya terasa tidak cuma menusuk tulang tapi masuk sampai ke sumsum mengingat Mataloko adalah tempat yang terkenal sangat dingin. Itu hukuman pertama yang saya alami di Seminari.

This slideshow requires JavaScript.

Memang terasa membosankan hidup dalam pola rutinitas seperti dikisahkan di atas. Tampaknya waktu itu yang penting menjalani saja rutinitas acara yang ada tanpa menyadari makna dan nilai di baliknya. Padahal tujuan aturan dan ritual rutin kegiatan itu tentu untuk melatih kedisiplinan dan untuk menciptakan keseimbangan kepada hidup. Melanggar akan menanggung resiko dipanggil oleh Perfek untuk menerima teguran atau hukuman yang bisa berujung berhenti dari Seminari alias keluar atau pulang ke rumah keluarga. Maka karena itu kami memang takut melakukan pelanggaran walaupun bukan berarti tidak pernah melanggar peraturan. Yang penting jangan sampai ketahuan oleh Perfek.

Bagi saya kebersamaan dengan teman-teman dan keinginan untuk menjadi imam mengalahkan kejenuhan dan kebosanan. Banyak siswa baru yang tidak betah lalu mengundurkan diri. Satu hal yang membuat saya bertahan di Seminari adalah olahraga khususnya sepak bola. Saya memang kebetulan berminat dengan olahraga terutama sepak bola. Walaupun berbadan kecil dan pendek tapi lincah mengolah si kulit bundar di lapangan hijau. Karena itu sejak di SMP Seminari, saya sudah menjadi salah satu pemain utama untuk beraksi di lapangan hijau. Beberapa kali kami memenangi pertandingan sepak bola antar sekolah di tingkat Kabupaten Ngada. Ini memang membanggakan.

This slideshow requires JavaScript.

Ketika akan menyelesaikan SMP Seminari, tidak ada pikiran lain dalam benak saya selain melanjutkan pendidikan di SMA Seminari Mataloko. Semuanya berjalan dengan baik dan lancar di SMA Seminari meskipun bukan tanpa kesulitan terutama soal pembiayaan yang sering terlambat dibayar. Di tahun terakhir kami harus membuat keputusan dan menulis surat untuk mengajukan lamaran melanjutkan pendidikan menjadi imam atau untuk berhenti. Untuk dapat melanjutkan pendidikan menjadi imam harus membuat suatu pilihan dari banyak pilihan: apakah masuk Tarekat atau Dioses. Dan harus memilih salah satu tarekat atau dioses karena tarekat dan diosespun banyak.Waktu itu saya punya empat pilihan. Mula-mula saya ingin menjadi Karmelit, kemudian Fransiskan lalu Yesuit dan terakhir Serikat Sabda Allah. Setelah berdoa dan memertimbangkan keempatnya, saya akhirnya memutuskan untuk memilih Serikat Sabda Allah karena ingin menjadi misionaris yang bekerja di mana saja di seluruh dunia kemana Pemimpin menugaskannya terutama di tempat-tempat perintisan. Alangkah senangnya saya ketika mendapat surat balasan dari Provinsial SVD Ende bahwa saya diterima untuk masuk novisiat Serikat Sabda Allah. Berita gembira inipun cepat tersiar sampai ke keluarga yang dengan senang hati mendengarkan dan mendukungnya.

Novisiat SVD dijalani selama 2 tahun dengan kebijakan bahwa pada tahun kedua sudah bisa mengikuti perkuliahan di STFK Ledalero. Pada waktu itu tahun 1982, seingat saya (bisa keliru) kami seangkatan berjumlah 56 orang. Kami berasal dari berbagai Seminari Menengah di pulau Flores, Timor dan Langgur Ambon Maluku. Selama menjalani tahun novisiat kepada kami lebih dipekenalkan dengan cara hidup Serikat Sabda Allah, sejarah, spiritualitas dan konstitusi serta karya-karyanya sambil memelajari bahasa dan ilmu humaniora. Beberapa teman akhirnya mengundurkan diri dan ada yang tidak diterima untuk mengucapkan kaul.

Tanggal 1 Agustus 1984 kami mengucapkan kaul pertama dalam Serikat Sabda Allah dalam perayaan Ekaristi yang meriah. Ketiga kaul yaitu kemiskinan, kemurnian dan ketaatan dalam Serikat Sabda Allah menurut Konstitusinya menjadi ikrar penyerahan atau persembahan hidup kepada Allah Esa dan Tritunggal dan menjadikan kami biarawan misionaris Serikat Sabda Allah untuk setahun. Kini kami telah menjadi anggota Serikat Sabda Allah meskipun belum kekal karena setiap tahun selama 6 tahun harus memerbaharuinya sampai pengucapan kaul kekal. Ada kebanggaan tersendiri karena menjadi orang yang berkaul dan sah disapa sebagai frater SVD. Namun di balik kebanggaan itu tersimpan kecemasan, “sampai berapa lamakah akan bisa bertahan dalam hidup berkaul”.

Kaul Pertama 1984

Kaul Pertama 1984

Benar saja, pada tahun 1986 hampir tidak diterima untuk mengulang kaul karena hal yang saya sendiri belum mengerti dengan jelas duduk permasalahannya hingga kini. Apakah karena saya kurang taat atau karena saya membantu membereskan penulisan laporan seorang calon perawat (yang sebetulnya keluarga saya dan saya memanggilnya tanta) sehingga dicurigai punya relasi khusus. Terjadi sedikit ketegangan dengan Perfek/Pembina tingkat III saat itu. Akhirnya untuk mengatasi guncangan ini, ketika saat liburan tiba, saya pergi berlibur dengan seorang teman seangkatan ke pulau Lembata sambil menanti jawaban surat lamaran untuk ulang kaul. Dalam hati kecil, ini rupanya ujian yang harus saya lewati. Ya terserah Tuhan. Ternyata ujian ini berhasil dilalui dan dapat melanjutkan pembaharuan kaul.

Ketika mengucapkan kaul kekal

Ketika mengucapkan kaul kekal

Gangguan ternyata tidak berhenti disitu. Hal yang lebih berat dirasakan adalah ketika sehabis Tahun Orientasi Pastoral (TOP) di STM Nenuk Atambua, mama tercinta dipanggil Tuhan. Peristiwa itu terjadi pada tanggal 7 September 1988 ketika sebagai ketua sie Konsumsi sedang memersiapkan pesta keluarga. Saya terpaksa meninggalkan kegiatan persiapan pesta itu dan pulang sore itu juga dengan menggunakan bus malam menuju ke Ende. Karena transportasi dari Ende menuju ke kampung agak sulit dan kurang lancar maka saya baru tiba di kampung pada sore hari berikutnya. Oleh karena itu saya tidak bisa bertemu dengan ibu untuk terakhir kali dan tidak bisa mengikuti upacara pemakaman untuk mama tercinta. Pada waktu itu tanggal 8 September 1988 bertepatan dengan hari jadi Tarekat Sabda Allah. Kejadian itu terus menghantui dan mengganggu ziarah perjalanan panggilan saya menjadi imam. Kisahnya sebagai berikut. Sesudah mengajukan lamaran untuk berkaul kekal pada bulan Maret 1999, saya ingin mengubah niat untuk berhenti dari seorang biarawan dan tidak mau menjadi imam. Saya mulai mencari-cari alasan untuk bisa berhenti. Secara diam-diam saya menulis surat untuk membatalkan lamaran. Dalam perjalanan pulang ke Mataloko untuk berlibur saya mampir untuk berkonsultasi dengan pater Provinsial SVD Ende, P. Paulus Tera, SVD sambil membawa surat pembatalan untuk diserahkan kepada beliau. Selesai berkonsultasi niat untuk pembatalan lamaran juga batal dan surat pembatalan lamaran yang telah disiapkan itu juga tidak jadi dikirimkan. Surat itu saya simpan hingga saat ini sebagai dokumen pribadi tanpa diketahui teman-teman seangkatan ataupun anggota keluarga. Sayapun mengucapkan kaul kekal dalam Serikat Sabda Allah bersama dengan teman-teman seangkatan pada tanggal 1 Agustus 1999.

Setelah mengucapkan kaul kekal dalam Serikat Sabda Allah, tibalah saatnya memersiapkan diri untuk tahbisan diakonat dan tahbisan imam. Sekali lagi saya harus menghadapi lika-liku dan badai persiapan tahbisan. Pasalnya terjadi perkara tanah perkampungan di tempat asal saya. Perkara ini tidak bisa terselesaikan secara kekeluargaan dengan damai dan baik sehingga harus dibawa ke meja hijau di pengadilan. Meskipun keluarga inti saya sesungguhnya tidak terlibat secara langsung sebagai penggugat atau tergugat namun tetap saja menerima dampak dari keadaan ini karena menjadi bagian yang tak terpisahkan dari keberadaan sebagai anggota suku. Perkara ini membawa pengaruh besar kepada persiapan tahbisan imamat saya. Berbagai isue dan persoalan muncul mengganggu ketenangan persiapan tahbisan. Apakah saya bisa menerima tahbisan imamat atau tidak? Kalau terjadi tahbisan, apakah akan terlaksana di paroki asal atau di tempat lain? Tetapi akhirnya diperoleh keputusan untuk tetap melaksanakan tahbisan di paroki asal saya, Paroki Roh Kudus Mataloko bersama Romo Anton Mite PR, imam Keuskupan Pangkalpinang. Begitu juga perayaan Misa perdana imam baru dapat berlangsung di kampung asal saya, Gisi. Dua kegiatan besar inipun berjalan dengan lancar, meriah dan sukses pada hari Selasa 26 Juni 1990 di lapangan Ampera Mataloko dan hari Rabu 27 Juni 1990 di Gisi didahului dengan penjemputan dari Paroki Boawae, sekitar 26 km dari Mataloko, dan dilanjutkan dengan Salve dan pemberkatan perlengkapan tahbisan imam baru pada hari Senin sore tanggal 25 Juni 1990, walaupun dibayangi situasi perkara. Ya, akhirnya semua indah pada waktunya.

This slideshow requires JavaScript.

Merenungkan peristiwa-peristiwa yang membayangi perjalanan saya menuju imamat, saya menjadi sadar bahwa ketika Tuhan telah merencanakan, Ia tidak akan menarik kembali rencanaNya dan manusia siapapun tidak bisa membatalkan rencana Tuhan. Seperti pengalaman Santo Paulus yang ditangkap oleh Tuhan dalam perjalanannya ke Damsyik, maka apabila seseorang sudah ditangkap oleh Tuhan, ia tidak bisa lolos lagi. (Bdk. Flp 3:12d; KisRas 9:1-19a).

Beberapa hari kemudian, ketika perayaan tahbisan imam dan perayaan Misa perdana yang begitu meriah, mulia dan agung, ketika kegembiraan dan sukacita serta syukur belum berakhir, keluarga mendapat berita baru yang sangat menyesakkan hati bahwa saya tidak diijinkan untuk melakukan perayaan-perayaan Misa Syukur bersama umat atau keluarga besar di kampung-kampung dan lingkungan-lingkungan dalam wilayah Paroki Roh Kudus Mataloko oleh Pastor Paroki kecuali di gereja Paroki. “Ibarat hujan sukacita yang menyegarkan sejam dihapus oleh terik matahari sehari demikianlah situasi yang saya alami waktu itu. Suasana gembira dan sukacita keluarga besar karena tahbisan imam baru begitu cepat berubah menjadi rasa sakit, kecewa, sedih dan marah. Mengapa dilarang untuk Misa? Apa gerangan yang terjadi? Lalu bagaimana menyikapinya? Sikap dan tindakan apa yang harus diambil dalam situasi seperti ini? Bergejolak dalam pikiran berbagai pertanyaan dan sikap apa yang harus ditempuh mulai dari pikiran dan sikap yang positif sampai dengan yang negatif hingga keinginan untuk berhenti dari imam. Namun dalam situasi sulit seperti ini saya ingat sebuah prinsip moral: jangan membuat keputusan dalam situasi kebingungan. Saya harus tenang, sabar, pasrah dan berdoa agar dapat menanggung perkara ini walaupun hati sebetulnya tidak bisa diajak kompromi untuk tidak marah, kesal, kecewa, stres. Saya merasa kesetiaan dan kesungguhan saya dalam imamat sedang diuji, ibarat emas harus diuji dalam tanur api supaya menjadi kuat dan murni. Hanya Tuhan menjadi andalan seperti kata-kata Santo Paulus berikut: “segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku”, (Flp 4:13). Keyakinan bahwa badai ini akan berlalu turut memberikan harapan. Dan benar saja badai itu akhirnya berlalu bersama waktu dan tinggal sebutir pertanyaan yang belum terjawab sampai sekarang, “apa sebenarnya yang terjadi?”.

Perutusan

Menjadi imam berarti menjadi orang yang dikukuhkan secara khusus dan publik melalui tahbisan untuk menjadi pelayan Gereja. Seorang imam diberi tugas khusus, khas dan utama untuk menjadi utusan dalam mewartakan dan membangun Kerajaan Allah di tengah dunia. “Pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarkanlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu”, (Mat. 28: 19-20). Memakai ungkapan yang biasa digunakan dalam Gereja adalah diutus untuk pergi bekerja di kebun anggur Tuhan.

Sesuai dengan keputusan pimpinan tertinggi serikat di Roma, saya mendapat tugas perutusan untuk berkarya di Provinsi SVD Jawa. Pada saat tahbisan, Provinsial SVD Ende yang turut hadir dan mengambil bagian dalam upacara ini, dalam sambutannya mengumumkan lagi penugasan saya ke Provinsi SVD Jawa. Beliau menyampaikan juga bahwa setelah 2 tahun bekerja saya akan melanjutkan tugas belajar atau studi. Karena itu setelah menjalani bulan madu imamat bersama keluarga menikmati liburan selama kurang lebih sebulan, saya berangkat ke Jawa dengan ke 3 teman lain yang juga akan bertugas di Provinsi SVD Jawa. Beberapa frater, karyawan dan keluarga dengan sukacita turut mengantar kami ke bandara Waioti yang sekarang berganti nama menjadi bandara Frans Seda dengan menggunakan kendaraan komunitas Ledalero. Ada sesuatu pemandangan yang menarik. Kami membawa serta beberapa koper yang penuh berisi pakaian dan hadiah-hadiah tahbisan lainnya. Ada yang berseloroh memberi komentar, “para misionaris sekarang ini membawa banyak barang berbeda dengan jaman Yesus”. Saat itu saya teringat kisah Injil dimana Yesus mengutus para murid untuk mewartakan hal Kerajaan Allah dan mengingatkan mereka untuk tidak membawa banyak barang, (bdk. Mt 10: 5-10). Sekarang kami terutus dan akan pergi dengan meninggalkan kaum keluarga, kampung halaman, pulau Flores tercinta untuk tugas yang sama. Namun yang berbeda adalah kalau para murid diminta Yesus untuk tidak membawa bekal dalam perjalanan atau dua helai baju, kasut atau tongkat, yang terjadi dengan kami justeru sebaliknya. Apakah ada pergeseran pemaknaan Sabda Yesus? Apakah ini menjadi tanda-tanda kurang mengandalkan Tuhan? Apakah karena situasi dan kondisi jaman yang sudah berubah? Setiap kami tentu mempunyai alasannya tersendiri.

Kami berangkat dengan menumpang pesawat Merpati. Setiba di Jawa kami tidak langsung menuju tempat tugas tetapi terlebih dahulu harus mengikuti Orientasi Misi yang dilaksanakan di Seminari Tinggi Rajabasa Malang bersama dengan teman-teman seangkatan dari SVD Malang. Bagi saya yang terasa penting dari kegiatan ini adalah bahwa kami diingatkan untuk, ketika memasuki tempat tugas yang baru dalam bermisi, supaya belajar situasi dan kondisi umat, kebiasaan dan budaya hidup umat serta berpastoral secara terencana bersama umat. Hal yang terakhir ini adalah semangat yang hingga saat ini saya kembangkan dalam karya pastoral, yaitu berkarya secara terarah dan terencana. Sebab karya pastoral sebagai karya pelayanan umat memang harus diputuskan dan dikelola bersama umat melalui perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi dengan melibatkan partisipasi umat sebanyak mungkin agar umat merasa memiliki program kerja.

Sesudah mendapat orientasi misi kami memeroleh penempatan untuk mulai berkarya. Saya mendapat penempatan pertama untuk bertugas di Keuskupan Denpasar. Rasanya inilah saatnya untuk mewujudkan tugas sebagai misionaris dan untuk memberi makna kepada imamat jabatan yang telah diterima sebagai anugerah ilahi.

Ketika sebagai pendidik di Seminari Tuka - Bali

Ketika sebagai pendidik di Seminari Tuka – Bali

Dengan semangat yang berkobar-kobar sebagai misionaris muda, pada akhir bulan September 1990 saya berangkat dari Rumah Soverdi Surabaya menuju Denpasar Bali dengan menumpang bus malam Bali Indah. Ini pertama kalinya saya menumpang bus yang besar berkapasitas penumpang hampir 40 orang dengan tempat duduk yang lebar dan nyaman. Setiap penumpang mendapat tempat duduknya sendiri tidak seperti biasanya yang saya alami di Flores. Karena keberangkatannya malam, maka keindahan panorama alam sepanjang perjalanan dari Surabaya ke Denpasar yang sering diceritakan orang tidak bisa disaksikan dan dinikmati. Ini resiko. Ketika pagi hari tiba di terminal Ubung Denpasar, ternyata sudah ada sekelompok orang yang datang untuk menjemput saya. Maka berangkatlah saya ke Seminari Tuka dalam sukacita dengan terlebih dahulu mampir beberapa menit di rumah Keuskupan untuk melapor dan memerkenalkan diri. Di Seminari saya mendapat surat yang berisi SK Uskup Denpasar Mgr Vitalis Djebarus SVD (alm) yang memberi tugas kepada saya menjadi Pastor Pembantu Paroki Tuka dan pengajar Seminari dengan bertempat tinggal di Seminari.

Dalam surat presentasi Provinsial SVD Jawa, saya akan bertugas di Seminari dalam masa bakti selama 2 tahun. Karena ada berita bahwa sesudah itu akan studi lanjut. Namun belum genap 2 tahun bertugas, kepada saya ditawarkan oleh Provinsial untuk pindah dan bekerja sebagai pastor paroki di Wonokromo Surabaya. Sementara itu ada juga kebutuhan akan Pastor Paroki di Paroki St. Antonius Ampenan Lombok. Lalu bagaimana dengan rencana studi lanjut? Saya berpikir studi lanjut tentu penting. Tapi apakah studi itu hanya bisa dilaksanakan di dalam perkuliahan? Studi dapat dilakukan melalui dan dalam pekerjaan, learning by doing, walaupun pasti tidak intensif. Saya berpikir ilmu bisa diperoleh dimana saja yang penting jangan pernah lupa membaca. Selain itu keputusan untuk studi tergantung dari pertimbangan dan kebijakan pembesar atau pimpinan, apalagi keberhasilan atau sukses dalam pelayanan tidak semata ditentukan oleh tingkat pendidikan tetapi dipengaruhi oleh banyak hal sebagaimana pengalaman yang sudah terbukti dari banyak orang. Dengan pertimbangan demikian dan dengan melihat situasi dan kebutuhan pastoral yang lebih mendesak, maka saya akhirnya menerima permintaan Bapak Uskup Denpasar untuk bertugas di Ampenan Lombok.

Pada bulan Januari 1992 tepatnya hari Selasa tanggal 21, saya dihantar menuju ke Ampenan oleh beberapa orang di bawah pimpinan Romo Hadi dengan menggunakan sebuah kendaraan dan menumpang kapal fery. Sungguh sebuah perjalanan yang menarik menyeberangi Selat Lombok sambil menikmati pemandangan laut dan gugusan pulau-pulau yang indah. Kami dijemput di pelabuhan Lembar menuju ke Pastoran Ampenan. Di sana sudah ada beberapa orang anggota DPP yang menunggu. Setelah berbincang-bincang sambil menghabiskan suguhan kopi dan jajan, beberapa anggota DPP berpamitan dan pulang. Waktu itu saya tak menyangka, salah seorang anggota DPP menarik tangan saya menuju ruang tamu dan sambil menunjukkan jarinya ke papan yang bertuliskan susunan anggota DPP, beliau berbisik: “Romo hati-hati dengan beberapa orang ini. Saya tidak setuju jika Romo memakai mereka ini sambil menjulurkan jarinya ke beberapa nama yang tertulis di papan itu”. Saya hanya tersenyum tapi hati saya sempat terenyut. Saya teringat akan beberapa kisah yang pernah saya dengar tentang imam muda yang dianggap karena belum berpengalaman gampang dipengaruhi, disetir dan diatur. Saya mesti hati-hati agar tidak mudah dipengaruhi dan disetir oleh umat yang merasa diri berpengaruh dan suka mengatur di paroki. Kata hati saya mengingatkan saya untuk menjadi imam yang mendengarkan umat tetapi tentu tidak bisa menerima dan menyetujui semuanya. Saya ditantang untuk hati-hati dan bijak. Karena itu kepada bapak tersebut saya hanya mengatakan: “baik Bapak, terima kasih nanti kita lihat”.

Sebagai imam muda saya tentu bangga karena mendapat kepercayaan menjadi pastor paroki. Namun saya juga sedikit cemas karena belum berpengalaman mengelola paroki. Muncul pertanyaan di dalam benak saya: “apa yang harus saya buat untuk membangun paroki?”; “paroki macam apa atau model apa yang harus saya bangun?”; “bagaimana caranya bekerja membangun paroki?”; “saya harus mulai dari mana?”; “bagaimana dan macam apa situasi umat yang saya hadapi?”, dan masih setumpuk pertanyaan lainnya yang mulai menggoda dan menantang saya untuk berpikir untuk menentukan sikap. Saya ingat bahwa perlu mengenal situasi dan kondisi umat, perlu bekerja dengan rencana, perlu ada visi atau konsep membangun paroki, perlu bekerja bersama dan dengan keterlibatan umat, perlu bangun komunikasi dengan umat serta percaya kepada rencana atau kehendak Tuhan dalam doa. Membangun paroki tentu tidak sama dengan membangun sebuah perusahaan. Saya mulai mencari bantuan pada bacaan-bacaan dan dokumen yang berbicara tentang pastoral umat, tentang paroki, tentang DPP. Lalu setelah itu barulah mulai merencanakan pekerjaan membangun paroki.

Sambil berjuang untuk menemukan visi atau konsep yang tepat dalam membangun Paroki Ampenan dan gerejanya “Panen Abadi”, saya memulai berusaha menata halaman gereja agar halamannya yang berlekuk-lekuk tanahnya menjadi rata, halamannya yang terbuka dipagari, halamannya yang gersang ditanami pohon, lingkungannya bersih, asri dan terasa nyaman. Karena orang bilang (entah benar atau tidak) bahwa kebersihan dan keindahan itu bagian dari iman dan bahwa kalau lingkungan pastoran dan gereja bersih dan asri pastornya juga akan betah untuk bekerja dan tidak suka ngeluyur kecuali harus mengunjungi umat.

Gereja Katolik Ampenan

Gereja Katolik Ampenan

Ketika bertugas di Ampenan, tantangan utama pertama yang harus saya hadapi adalah membangun paroki sebagai sebuah komunitas umat beriman yang hidup rukun, bersatu dan bersaudara. Kerukunan, persaudaraan dan persatuan umat adalah hal yang penting. Warga Paroki St. Antonius Ampenan adalah para pendatang yang berasal dari berbagai suku dan mudah terpecah kesatuannya. Karena itu kesatuan umat mesti dibangun dan dijaga. Imam mesti berperan sebagai pemersatu umat. Imam perlu dekat dengan umat namun tetap perlu jarak dengan umat. Artinya imam jangan sampai terperangkap dalam kelompok-kelompok tertentu dan hal itu tentu akan mengganggu pelayanan. Imam harus berada di atas semua kelompok.

Tantangan yang kedua adalah membangun paroki yang mandiri atau berdikari. Berdikari dari segi dana atau finansial, tenaga dan iman yang kuat. Bertahun-tahun umat mendapat bantuan finansial untuk membiayai kebutuhan pastoral. Tenaga awam yang aktif terlibat dalam kehidupan pastoral sangat terbatas. Kehidupan iman umat masih sebatas kegiatan ibadah hari Minggu dan Rosario bulan Mei dan Oktober serta tidak kuat menghadapi tantangan dari mereka yang berkeyakinan lain.

Tantangan lain adalah bekerja dengan perencanaan yang baik, yaitu memunyai arah, tujuan atau sasaran yang mau dicapai serta strategi yang tepat bersama umat. Kiranya tidak cukup hanya bekerja dengan tekun dan rajin sambil mengandalkan penyelenggaraan ilahi tetapi mengabaikan cara kerja yang tepat serta peran-serta dan tanggungjawab umat. Maka sejak tahun 1993 dengan segala macam kekuarangan mulailah saya berusaha bekerja dengan mengadakan perencanaan kegiatan pastoral bersama umat pada awal tahun, menggerakkan pelaksanaannya, dan membuat evaluasi pada akhir tahun. Pada awalnya pola kerja seperti ini tidaklah mudah sebab memasukkan suatu cara bekerja yang baru, kesiapan sumber daya manusia yang belum memadai, kesiapan sumber dana yang tak mencukupi. Pastoral dari umat, oleh umat dan untuk umat bersama gembala/pastor dan rahmat Tuhan demi kemuliaan Tuhan mendapat apresiasi tetapi juga mengganggu pola pastoral tradisional yang top down. Sebagai pastor paroki, saya harus konsisten dengan pilihan cara berpastoral. Satu hal yang saya sadari tentang peran imam sebagai pemimpin adalah memberi arah, menggerakkan umat (animator), membangun komunikasi dan koordinasi (koordinator), dan mengurus melayani umat (administrator). Suatu kesempatan dalam suatu pertemuan pastoral di rumah retret Tegaljaya seorang imam dengan nada memuji atau sinis berkomentar: “Ampenan ini macam lebih dari keuskupan saja”.

Untuk menyiapkan fasilitas pendukung kegiatan pastoral, direncankanlah pembangunan pastoran yang baru dan renovasi gedung paroki Kampung Banjar untuk menjadi sarana tempat retret. Rencana pertama dapat direalisir tetapi rencana kedua mengalami perubahan. Gedung paroki Kampung Banjar memang berhasil direnovasi tetapi tidak semua bagiannya karena tidak jadi sebagai tempat retret. Dan sayang tempat ini kemudian dirusakan oleh massa dalam peristiwa kerusuhan di Lombok tahun 2000.

Pemberkatan Kapela Tanjung

Pemberkatan Kapela Tanjung

Salah satu pengalaman menarik lain ketika berpastoral di Paroki St. Antonius Ampenan saat itu adalah membangun Stasi Tanjung. Stasi ini berjarak hampir 40 km dari Ampenan dengan jumlah umat 13 KK. Dengan menggunakan sepeda motor, setiap hari Minggu bersama dengan beberapa orang umat berangkat ke Tanjung untuk melayani umat. Perjalanan menuju ke Stasi Tanjung melewati medan yang berkelok-kelok, mendaki dan menuruni lereng bukit Pusuk dengan monyetnya sebagai penghuni tetap atau menyisir pantai Senggigi, Malimbo dan teluk Nara yang indah. Perayaan Misa setiap hari Minggu berpindah-pindah dari satu rumah ke rumah yang lain karena pada waktu itu belum memunyai tempat ibadat yang tetap hingga akhirnya tahun 1999 didirikan sebuah kapela. Selesai perayaan Misa diadakan perjamuan bersama. Umat rukun bersatu penuh persaudaraan. Sebuah kawanan kecil di tengah mayoritas Islam dan Hindu. Namun semuanya itu kemudian hancur berantakan ketika terjadi kerusuhan Mataram tahun 2000. Kapela yang dibangun dengan semangat gotong royong, kebersamaan dan susah payah oleh umat dirusak dan dibakar. Umat tercerai berai ke berbagai tempat. Akhirnya tinggal kenangan yang entah kapan lagi iman Katolik dan misi Gereja bisa bersemai dan bertumbuh kembali di sana.

Pengalaman mengerikan terjadi saat kerusuhan Mataram yang dikenal dengan peristiwa 171 tahun 2000. Saat mulai terjadi kerusuhan saya berada di Denpasar sebab sebelumnya saya mengikuti pertemuan dewan Konsultores dan berencana baru akan pulang ke Lombok pada hari Selasa tanggal 18 Januari. Ternyata hari Senin 17 Januari 2000 terjadi kerusuhan di Mataram. Massa yang yang mengikuti tablig akbar di lapangan Mataram bubar dan bergerak ke timur menuju gereja GPIB lalu gereja Katolik Mataram dan berpencar ke seluruh kota. Mereka melempari dan membakar tempat-tempat ibadat umat kristiani. Gedung gereja Mataram, pastoran dan aulanya yang berdampingan dengan kantor Kodim Lombok Barat dan Garnisun terbakar dilalap si api dan tak ada barang yang terselematkan. Mendengar berita itu saya putuskan untuk segera kembali ke Lombok hari Senin siang itu dengan menggunakan pesawat terbang. Memang ada yang melarang untuk kembali ke sana tetapi saya berpikir seorang gembala tidak boleh meninggalkan umat yang sedang mengalami kerusuhan dan kesulitan. Setiba di Ampenan saya menyaksikan para perusuh sedang berusaha melawan blokkade petugas untuk masuk ke gereja Katolik Antonius Ampenan. Namun dengan kerjasama dengan pihak keamanan dan pemerintah serta beberapa tokoh masyarakat, gereja Katolik Santo Antonius Ampenan tidak berhasil diserang dan dirusak. Situasi kota Mataram begitu mencekam karena bukan lagi hanya tempat ibadat umat kristiani yang disasar tetapi juga rumah-rumah tinggal dan tempat usaha umat kristiani dan etnis Tionghoa serta warga pendatang. Saking seram dan tercekamnya situasi, saya bahkan cuma mengenakan pakaian yang melekat di badan selama 3 hari ketika berada di aula AURI, tanpa uang satu senpun, tidak bisa mandi dan sikat gigi, diberi makan dari dapur umum dan umat karena semua barang tertinggal dan berada di tempat lain dan tidak bisa mengambilnya. Banyak umat kristiani dan etnis Tionghoa yang mengungsi keluar pulau Lombok. Toko ditutup, sekolah libur, karyawan tidak bekerja. Harga bahan pokok melonjak naik bahkan satu bungkus mie dijual sampai seharga Rp. 5.000,.

Akar permasalahan Mataram kelabu itu beraneka ragam, mulai dari politik, sosial, ekonomi, agama, suku dan ras. Sentimen keagamaan menjadi alat pemicu utama yang mudah dipakai oleh para provokator untuk menggerakkan massa melakukan tindakan anarkis. Umat kristiani yang hanya kawanan kecil menjadi sasaran dan obyek pelampiasan. Pada waktu itu pasca reformasi, situasi masyarakat Indonesia sedang mengalami kekacauan dan kerusuhan di berbagai tempat.

Kondisi Pastoran dan Gereja Mataram dalam peristiwa kerusuhan 171 tahun 2000, Mataram

Kondisi Pastoran dan Gereja Mataram dalam peristiwa kerusuhan 171 tahun 2000, Mataram

Pada saat terjadi kerusuhan Mataram yang dikenal dengan peristiwa 171 tahun 2000 itu, saya juga menerima penugasan baru sebagai pastor Paroki St. Maria Immaculata Mataram menggantikan Romo Handriyanto Wijaya, Pr (Rm. Han) dan sesudah itu sebagai pastor Paroki Praya Selong dan deken Dekenat NTB menggantikan Romo Thomas Tehpo, SVD. Dalam suasana penuh haru kami mengadakan serah terima di antara puing-puing bangunan pada Misa hari Minggu dengan sekelompok kecil umat sambil dijaga aparat keamanan dan satpol PP. Saya harus menerima dan menghadapi kenyataan atas aneka kehancuran: kehancuran fisik paroki yang sungguh sempurna karena semua sarana fisik dan perlengkapan rusak dan terbakar, kehancuran iman dan mental umat, kesatuan umat yang terpecah dan kehancuran relasi kehidupan yang rukun intern dan antar umat beragama. Pada waktu itu untuk ke gereja saja umat takut kalau diketahui sebagai orang Katolik. Wah… seolah harus mulai dari nol lagi. Di balik semua kehancuran ini muncul sederetan pertanyaan iman: Dimanakah Tuhan? Mengapa Ia membiarkan semua ini terjadi? Apa maksud Tuhan dengan semua ini? Apa kehendak Tuhan yang ingin disampaikanNya?

Pastoran dan gereja tinggal menyisahkan puing-puing yang sudah rusak dan terbakar. Karena itu saya terpaksa harus mencari tempat tinggal sementara. Rumah Susteran Abdi Kristus (AK) dijalan Beo Cakranegara menjadi pilihan tempat tinggal selama hampir 4 bulan. Ruangan tamu susteran menjadi tempat umat berkonsultasi. Pelayanan ibadat untuk umat dilakukan di aula paroki sisa kebakaran yang beratapkan langit. Pernah terjadi suatu hari Minggu ketika Misa sedang berlangsung hujan turun, koran yang dibawa umat untuk menjadi alas duduk basah, air hujan memenuhi lantai dan merendam kaki umat tapi umat tetap tekun bertahan. Suatu pemandangan yang memilukan dan menyayat hati. Suatu pengalaman yang tak akan pernah terlupakan.

This slideshow requires JavaScript.

Untuk menggerakkan kembali roda kehidupan paroki yang lumpuh, diupayakan pengatapan kembali puing-puing bangunan gereja dan pastoran secara darurat supaya bisa dipakai sementara. Dengan itu saya mendapat tempat tinggal baru di dalam puing bangunan sisa kerusuhan. Seolah bertarung dengan waktu dan menantang situasi roda kehidupan pastoral paroki mulai digerakkan kembali sambil berusaha terlibat dalam kegiatan sosial kemasyarakatan dengan berbagai kelompok dan pemerintah untuk merajut kembali kerukunan, persatuan dan kesatuan hidup masyarakat. Secara eksternal bersama-sama para tokoh agama dan pemerintah serta kelompok-kelompok LSM yang bergerak di bidang kerukunan, keadilan dan perdamaian kami mengusahakan penyelesaian konflik dan membangun kembali kepercayaan, kerukunan dan perdamaian antar kelompok suku, etnis dan agama di tengah masyarakat NTB. Secara internal mengkoordinir dan mengusahakan bantuan kebutuhan pokok (sembako) untuk umat melalui sebuah kelompok bernama Caritas yang saya bentuk pada awal kerusuhan, perbaikan rumah umat dan biaya pendidikan bagi anak-anak korban kerusuhan serta pemulihan mental umat yang terlanjur trauma. Pada bulan Februari 2002 bersama tokoh-tokoh agama dari MUI, Hindu, Budha, Kristen Protestan, Departemen Agama (Depag), kami berhasil membentuk FKUB (Forum Komunikasi antar Umat Beragama) NTB di Mataram. Tak disangka ketekunan dalam upaya menyelesaikan konflik dan membangun kerukunan dan perdamaian ini mendapat apresiasi dari kelompok pegiat penyelasaian konflik sosial dari Amerika Serikat. Mr. Richard salah seorang dosen dari Ohio University dalam kerjasama dengan direktur Lembaga CERIC (Center For Reaserch on Intergroup Relations and Conflict Resolution) di bawah Pimpinan bapak Imam Prasodjo dari Universitas Indonesia menunjuk kami yang berjumlah 11 orang dari berbagai wilayah di Indonesia yang terlibat aktif dalam penyelesaian konflik sosial yang berbau SARA untuk mengadakan studi banding dialog Antar Agama (Interreligious Dialog) di beberapa kota besar di Amerika Serikat dengan dukungan dana dari Depatemen Luar Negeri Amerika Serikat untuk Asia Tenggara pada bulan April tahun 2004. Negara Amerika yang tak pernah dibayangkan untuk dikunjungi akhirnya kesampaian juga. Ground Zero menara kembar di New York yang dihancurkan para teroris pada peristiwa 11 September 2001 kelabu akhirnya juga dapat disaksikan dengan mata kepala sendiri. Saya hanya bisa bersyukur bahwa Tuhan merencanakan semua dan indah pada waktunya. Berbagai kerja keras dan rasa lelah seolah dibayar lunas pada saatnya. Memang Tuhan selalu punya cara sendiri untuk menghibur orang yang dikasihiNya.

Umat paroki Mataram memiliki dinamika yang tinggi. Cepat bereaksi terhadap sesuatu yang terjadi dalam kehidupan pastoral dan antar kelompok. Maka karakter umat ini mesti disikapi dan dikelola dengan baik. Bahkan ketika terjadi peristiwa kelabu 171 tahun 2000, umat Paroki Mataram memang terpecah dalam kelompok-kelompok. Ketika bertugas sebagai pastor Paroki St. Maria Immaculata Mataram saya mencatat 4 hal pokok yang menjadi fokus perhatian utama dalam tugas saya bersama umat dalam karya pastoral. Pertama, membangun kembali keberanian dan kepercayaan diri umat yang trauma dan takut akibat kerusuhan. Kedua, mengelola dinamika kelompok umat secara tepat serta membangun kerukunan dan persaudaraan, persatuan dan kesatuan umat baik ke dalam maupun keluar. Ketiga, membangun kehidupan rohani dan iman umat, dan menggerakkan pembangunan fisik paroki yang hancur total. Keempat, membenahi sistem dan kultur kerja pastoral paroki secara terarah, teroganisir, sistematis dan terencana. Saya bersyukur bahwa dalam kerjasama dengan umat dan berbagai pihak dan dengan campur tangan Tuhan, pekerjaan besar ini akhirnya bisa diwujudkan meskipun dengan banyak pengorbanan dan tidak sempurna. Kepercayaan diri umat bisa dipulihkan kembali dan banyak orang yang mengungsi mau kembali ke Mataram. Persatuan dan kesatuan umat baik ke dalam antara kelompok umat maupun keluar dengan masyarakat sekitar dan pemerintah dapat dibangun kembali. Pembangunan fisik paroki: pastoran, aula, kantor-kantor dan gereja dapat terselesaikan. Gedung gereja yang bagus dan megah dapat ditahbiskan oleh Mgr Vincensius Potokota uskup Agung Ende dan diresmikan oleh Walikota Maratam HM Roeslan dalam sebuah upacara yang meriah. Sistem dan kultur kerja serta pengelolaan pastoral yang terencana,terarah, dan teroganisir dapat dibangun.

Sebagai seorang misionaris, kiranya tidaklah tepat bertahan terus pada suatu tempat dan menikmati hasil karya. Godaan seperti itu apabila diikuti akan membawa pengaruh yang kurang baik bagi seorang misionaris dan juga bagi umat. Bahaya indetifikasi diri misionaris dan paroki bisa mengancam pelayanan dan situasi kehidupan iman umat. Saya telah bekerja di 3 paroki di pulau Lombok yang dikenal dengan “pulau seribu masjid” dan di wilayah NTB selama 19 tahun. Tentu suatu jangka waktu yang lama. Kata-kata Yesus, “Aku harus mewartakan Injil di desa-desa dan kota-kota lain karena untuk itulah Aku diutus”, mengingatkan saya untuk tidak terus bertahan di Mataram dan Lombok khususnya dan NTB umumnya dengan segala keberhasilan dan cerita suksesnya. Maka karena itu pada pertengahan tahun 2009 saya memutuskan untuk mengambil tertiet tahun 2010 dan meninggalkan segala yang telah dicapai untuk membuat refeksi segala yang telah dikerjakan dan membaharui diri ibarat mobil masuk bengkel untuk upgrade. Dengan ini pula berakhirlah perutusan saya di NTB. Saya mengakhiri perutusan di sana dengan berbagai masalah dan perjuangan bahkan dengan tetesan air mata. Karena itu dalam acara Misa perpisahan dengan umat Mataram dan NTB dan serah terima tugas dengan pastor pengganti saya berpesan dengan mengutip dan sedikit mengubah kata-kata Santo Paulus ketika berpisah dengan para penatua di Efesus: “Kamu tahu bagaimana aku hidup di antara kamu sejak hari pertama aku tiba di Mataram: dengan segala rendah hati saya melayani Tuhan dan kamu. Dalam pelayanan aku banyak mencucurkan air mata dan banyak mengalami kesulitan dari pihak orang yang tidak suka dan situasi yang tidak mendukung. Sungguhpun demikian aku tidak pernah melalaikan apa yang berguna bagi kamu baik dengan masyarakat umum maupun dalam jemaat kristiani Katolik. Tetapi sekarang sebagai seorang misionaris saya akan pergi dari sini. Tetapi aku tidak menghiraukan semuanya, asal aku mencapai garis akhir perutusan dan pelayanan yang ditugaskan Tuhan dan pembesar kepadaku untuk memberitakan Injil kasih karunia Allah. Kamu tidak akan memeroleh pelayananku sebagaimana biasanya lagi. Karena itu jagalah dirimu dan jagalah kawanan karena ada banyak serigala yang ganas yang bisa masuk ke tengah-tengah kamu bahkan dari antara kamu sendiri. Sebab itu berjaga-jaga dan ingatlah beberapa tahun lamanya saya bersama kamu, kita bersama-sama, bersusah payah membangun persatuan dan kesatuan umat baik ke dalam maupun keluar dengan masyarakat, baik fisik, non fisik maupun keteguhan mental. Jagalah dan peliharalah persatuan, kerukunan dan persaudaraan umat ke dalam dan keluar, jagalah dan peliharalah gereja ini yang dibangun dengan susah payah. Sekarang saya menyerahkan kamu kepada Tuhan, Firman kasih karuniaNya yang berkuasa dan pengganti saya”, (bdk. Kis Ras 20: 18-32). Sehabis Misa pada saat acara ramah tamah perpisahan kepada saya dikenakan sebuah cincin tanda kenangan dan terima kasih umat Paroki Mataram. Selanjutnya saya pergi menjalankan tertiet. Ketika menjalani tahun tertiet, saya mendapat berkat untuk beziarah ke Yerusalem dan Lourdes. Seusai tertiet sayapun pindah ke tempat yang baru di Denpasar tepatnya di Paroki St. Petrus Denpasar dan kemudian menerima lagi tugas tambahan di Komisi PSE Keuskupan Denpasar.

This slideshow requires JavaScript.

Pada saat merayakan 25 tahun imamat di Paroki Santo Petrus Denpasar ini, saya bersyukur kepada Tuhan dan berterima kasih kepada para Provinsial dan para Uskup yang telah memercayakan kepada saya tugas pelayanan kepada umat dalam wilayah Keuskupan Denpasar ini untuk membuat imamat saya menjadi berkat bagi sesama dan berarti bagi Gereja. Saya juga berterima kasih kepada keluarga saya dan kepada semua orang yang telah menguatkan dan berjalan bersama saya dalam melewati lika-liku imamat untuk melayani Tuhan dan sesama dan memungkinkan saya masih bertahan sebagai imam seperti sekarang ini. Saya merasa belum melakukan banyak hal yang bisa saya lakukan ketimbang rahmat Tuhan dan perhatian dari sesama yang pernah saya terima sebagaimana juga dibenarkan oleh suster pemberi retret, sr. Bridge McKenna, OSC dalam doa dan penglihatan mata imannya dalam sebuah retret bersama para imam di Labuan Bajo beberapa tahun yang lalu. Ketika tiba gilirannya mendoakan saya, ia mengatakan, ”Romo, Anda seorang imam yang murah rejeki dan mudah mendapat belaskasih dan kemurahan Tuhan”. Karena itu harapan saya, semoga saya masih bisa berbuat lebih banyak lagi untuk kemuliaan Tuhan dan kebaikan bagi sesama dalam kelemahan dan kekurangan saya. Saya merasa berbahagia bisa merayakan 25 tahun imamat. Namun hal ini tentu pertama-tama bukan karena saya mampu atau hebat tetapi karena rahmat Tuhan yang setia berkarya dalam diri saya yaitu melindungi, menjaga, memelihara, dan menguatkan saya. Tuhan telah merencanakan dan melakukan semuanya bagi saya dengan setia. Tuhan yang memanggil, Tuhan yang mendidik dan Tuhan pulalah yang mengutus dalam seluruh kekuatan dan kelemahanku. Saya sadar bahwa meskipun imam, saya tetap tak luput dari kekurangan manusiawi dan bahkan terus menerus jatuh dalam dosa dan kelemahan manusiawi saya. Roh memang kuat tapi daging lemah. Saya harus mengakui bahwa saya bagaikan bejana tanah liat yang mudah hancur. Untuk itu semua, walaupun perjuangan ziarah imamat saya belum berakhir, tetapi saat ini saya ingin mengungkapkan syukur bersama Pemazmur: “Bersyukurlah kepada Tuhan sebab Ia baik, bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setiaNya”, (Mz 118: 1). Dan bersama Bunda Maria, Bunda para imam, saya mau mengagungkan Tuhan: “Aku mengagungkan Tuhan, hatiku bersukaria karena Allah penyelamatku. Sebab Ia memperhatikan daku, hambaNya yang hina ini” (Luk 1:46-48a).

Demikian goresan kenangan ini saya buat sebagai sharing ziarah hidup dan perutusan dalam pelayanan sebagai imam. Saya persembahkan kepada Panitia Perayaan Perak Imamat saya dengan ucapan berlimpah terima kasih atas segala pengorbanan dan kerja keras demi suksesnya perayaan syukur imamat ini. Juga saya haturkan tulisan ini kepada mereka yang dengan caranya sendiri telah berjalan bersama saya dalam ziarah imamatku. Dan akhirnya semoga sharing ini bermanfaat juga bagi semua yang membacanya. Deus Providet, Deo Gratias.

Syukur kepadaMu Tuhan, Terimakasih bagimu semua

Denpasar, Jumat 20 Februari 2015.

Jumat Pertama Masa Prapaskah 2015.

Buku Kenangan
25 Tahun Imamat Pastor Rosarius Geli, SVD

Design & Layout by: Abel Petrus

This slideshow requires JavaScript.